Gereja Pecah

Gereja Pecah

Minggu, 30 Agustus 2015

BAB III GEREJA YANG MEMBUMI

A.    Gereja dan Hakikatnya
Pemberian nama gereja tidak terlepas pada konteks budaya atau bahasa masyarakat setempat. Istilah “gereja” yang kita kenal saat ini pada awalnya berasal dari bahasa Portugis yaitu “igreja” yang berarti berkumpul. Dalam bahasa Yunani disebut ekklhsia  (ekklesia) yang berarti sidang, jemaat, atau kumpulan. Kataekklesia itu sendiri adalah terjemahan dari kata qahal” (kahal) atau “qahal YHWH yang berarti umat, jemaat, atau massa. Dalam Perjanjian Lama (PL) istilah “qahal” ber­arti Israel sebagai umat yang dikasihi oleh Allah yang dipanggil supaya menjadi terang dan berkat bagi bangsa-bangsa lain di sekitarnya (Ulangan 7:6).
Pemanggilan Allah yang istimewa ini bagi umat-Nya dimulai dari pribadi Abraham, Ishak, dan selanjutnya kepada kedua belas suku Israel. Mereka dipanggil oleh Allah sebagai umat yang berbakti kepada-Nya. Setelah Allah melihat manusia telah berdosa dan terus berbuat dosa, maka Allah Bapa mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus ke dalam dunia untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Pada posisi ini Yesus seratus persen adalah Allah dan seratus persen sebagai manusia.
Keberadaan Yesus di dunia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Sebagai manusia sejati, Dia lahir melalui keturunan Yusuf dan Maria dari Nazaret. Kelahiran Yesus sangat ajaib karena tidak melalui hubungan suami-istri pada umumnya, melainkan oleh kuasa Roh Kudus. Kelahiran-Nya menunjukkan bahwa Allah Bapa sangat mengasihi setiap manusia yang telah berdosa kepada-Nya. Mereka dipanggil dan dipilih untuk memperoleh pembaharuan hidup dan pertobatan yang benar dalam rencana penggenapan karya keselamatan kekal dari-Nya. Setiap manusia yang sudah ditebus dosanya dikenal sebagai orang Kristen.
Komunitas orang Kristen dipanggil oleh Allah dari berbagai suku, agama, ras, etnis, bahasa, budaya, dan berbagai bangsa di seluruh dunia. Mereka dikumpulkan menjadi sebuah komunitas yang saling mengasihi dan membangun. Dalam uraian Riemer (2002:60) bahwa komunitas ini dipanggil oleh Firman Tuhan. Kuasa Firman Tuhan dapat mengubahkan seluruh kehidupan manusia yang berdosa. Jadi, komunitas yang sudah dipanggil oleh Allah ini secara istimewa berkumpul dalam suatu tempat yang disebut gereja.
Dalam percakapan sehari-hari, hampir semua orang Kristen mengartikan gereja pada gedungnya semata. Pemahaman ini tentu tidak salah, tetapi juga tidak seluruhnya benar. Sekali pun melalui keberadaan gereja dapat dilihat identitas dan ciri khas orang Kristen. Orang Kristen tidak sama dengan gedung gereja. Yesus sendiri tidak pernah berbicara tentang gedung gereja untuk mengidentikkan orang Kristen itu sendiri. Istilah gereja lebih menekankan pada pengertian persekutuan spritual atau rohani.    
Keberadaan Bait Allah pada Perjanjian Lama tidak mungkin terlepas dengan keberadaan gereja yang kita kenal selama ini. Pada umumnya orang Kristen cenderung berpendapat istilah gereja lahir pada hari Pentakosta. Hari Pentakosta ini terjadi sekitar sepuluh hari setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Tetapi tidak boleh kita lupakan bahwa gereja yang lahir pada hari Pentakosta itu merupakan kesinambungan dengan umat Allah yang telah ada sejak pemilihan Abraham pada saat itu. Perwujudan umat Allah dapat dilihat dalam gereja sekarang ini.
Memang berbagai argumentasi yang muncul dari para teolog tentang hakikat gereja. Kerumitan dalam konteks kehidupan gereja bukan saja terletak pada kepelbagaian aliran, denominasi, dan doktrin yang selalu ditonjolkan, tetapi juga perdebatan sehubungan dengan asal-usul gereja itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa gereja adalah kesinambungan dari kehidupan bangsa Israel atau biasa disebut sebagai Israel rohani. Pada sisi yang lain ada yang mengatakan bahwa gereja adalah instrument baru yang tidak ada kaitannya dengan bangsa Israel.
Salah satu argumentasi yang diringkaskan oleh Walvoord (1984:18) dengan berkata:
Ada yang berpendapat bahwa gereja hanyalah perkembangan lanjut dari rencana Allah bagi Israel dalam Perjanjian Baru, kemudian berusaha menyamakan gereja dengan Israel. Yang lainnya lagi menganggap gereja sebagai suatu fase penggenapan tujuan wasiat Allah tentang penyelamatan. Ada pula yang berpendapat bahwa gereja adalah satu aspek dari keseluruhannya kerajaan Allah, dimana gereja merupakan satu lapisannya. Masih ada lagi yang menggabungkan berbagai aspek dari gagasan-gagasan di atas.

Konsep gereja sebagai kesinambungan dari Israel akan berbenturan dengan beberapa nubuatan yang tidak tepat dengan keberadaan gereja pada saat atau setelah pentakosta. Hal ini ditegaskan oleh Thiessen (2003:479) dengan mengatakan:
Mereka yang beranggapan bahwa gereja hanya merupakan Israel rohani dari Perjanjian Baru, dengan kata lain, gereja adalah kelanjutan dari Israel Perjanjian Lama, mau tidak mau percaya bahwa gereja sudah didirikan dalam zaman Perjanjian Lama. Pihak lain beranggapan bahwa gereja mulai didirikan pada saat Kristus mulai berkhotbah. Namun pandangan-pandangan ini ternyata tidak alkitabiah berdasarkan penyataan Kristus sendiri. Kristus menyatakan di Kaisarea Filipi bahwa pada saat itu gereja masih belum berdiri, karena Ia mengatakan, “di atas batu karang ini Aku akan membangun jemaatKu” (Matius16:18).
Momentum hari Pentakosta dan sesudahnya merupakan waktu yang tepat menemukan istilah gereja. Kendati secara istilah, eklesia adalah terjemahan dari kata Qahal. Namun persandingan makna tersebut hanyalah pada ranah definitif dan bukan pada eksistensinya.
Kristus membina hubungan yang intim dengan jemaat-Nya sebagai bentuk kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan dari diri-Nya. Hubungan yang hidup itu dapat dilukiskan melalui perumpamaan-perumpamaan-Nya, yaitu: Kawanan domba dan gembala (Yoh. 10:11; Yeh. 34);  umat Allah (1 Petrus 2:9; Yehezkiel 37:27); pokok anggur dengan ranting-rantingnya (Yohanes 15:1-15); Tubuh Kristus (Efesus 4:11-12; Roma 12:4; 1 Korintus 12:12-18), dan seterusnya.
Bentuk perumpamaan di atas menunjukkan relasi hubungan yang akrab dengan gereja-Nya. Dalam pandangan Packer (1991:68) mengatakan bahwa gereja adalah persekutuan seluruh dunia dari orang-orang percaya yang kepalanya adalah Kristus. Gereja berarti kumpulan orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Allah. Gereja dipimpin dan dikhususkan oleh Allah dalam rangka memberitakan karya keselamatan dari-Nya. Mereka beriman kepada Kristus dan dipanggil dari segala bangsa, budaya, bahasa, etnis, serta berbagai latar belakang kehidupan sosialnya.
Pemanggilan dan pemilihan setiap orang Kristen secara khusus didasarkan atas kasih dan anugerah Allah semata. Rasul Petrus menguraikan hal ini dengan berpusat pada skema kerajaan sorga: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat am rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri; supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).
Berdasarkan Firman Tuhan di atas ada dua aspek penting yang menjadi rujukan bagi setiap pribadi orang Kristen, yaitu:
1.     Anugerah sebagai aspek rohani atau spiritual yaitu terpilih, imamat am, dan kepunyaan Allah. 
2.     Melaksanakan tugas misi pemberitaan Injil kepada semua orang dalam dunia ini. Apabila gereja lepas dari misinya, maka pribadi-pribadi orang Kristen tersebut tidak dapat disebut gereja.
 Dari uraian di atas menunjukkan bahwa istilah qahal, ekklesia, dan gereja pada dasarnya menunjuk pada persekutuan orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, bangsa, etnis, dan budaya yang berbeda-beda. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya Allah serta juru selamatnya. Oleh sebab itu, seluruh aspek dan pola kehidupannya harus sesuai dengan kehendak Allah. Hidup dalam persekutuan dengan Allah serta meminta kekuatan dari Dia agar mampu melakukan segala perintah-Nya yang tertulis di dalam Alkitab.
B.    Gereja Bersifat Gedung
Setiap negara di dunia memiliki istilah yang berbeda-beda dalam menamai gereja. Penamaan gereja tentunya tidak terlepas pada konteks bahasa, budaya, dan tradisi negara atau daerah setempat. Beberapa contoh negara yang dimaksud antara lain: Inggris disebut Chruch, Belanda disebut Kerk, Scotlandia disebut Kirk, Indonesia disebut gereja. Setiap daerah di Indonesia menyebut gereja sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing. Misalnya di Nias gereja dikenal dengan istilah gosali, di Jawa dikenal istilah grejo, dan lain-lain. Apapun istilah gereja yang dipakai saat ini tidak terlepas dari istilah Yunani yaitu Kuriakon.  Kuriakon adalah Rumah Allah atau gedung gereja. Gereja yang bersifat gedung berbeda maknanya dengan ekklesia. Ekklesia lebih menunjuk pada pribadi orang Kristen.
Jumlah gedung gereja dari berbagai aliran dan denominasi di seluruh dunia mengalami peningkatan. Apabila dilihat secara seksama menunjukkan bahwa pertambahan jumlah orang Kristen tidak sebanding dengan pertambahan gedung gereja yang semakin tidak terkendalikan. Apakah pertambahan gedung gereja seperti ini menunjukkan peningkatan kuantitas dan kualitas orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu harus memiliki hati yang bijaksana serta penuh kejujuran pada setiap pribadi pemimpin gereja maupun orang Kristen secara keseluruhan. 
Bertambahnya aliran dan denominasi gereja memberi peluang penambahan gedung gereja baru. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 1993 menemukan 275 organisasi gereja Kristen Protestan dan sekitar 400-an yayasan Kristen Protestan yang bersifat gerejawi (Aritonang, 2000:1). Dari data ini menunjukkan bahwa pertambahan aliran dan denominasi gereja semakin meningkat. Jumlah organisasi gereja semakin bertambah, tetapi jumlah orang Kristen sangat sedikit peningkatannya atau bisa dikatakan jumlahnya masih tetap.
Berdasarkan hasil pengamatan dan data dari Lumintang (2011:76) menegaskan bahwa sesungguhnya tidak bertambah jumlah orang Kristen di Indonesia bahkan cenderung menurun. Selanjutnya, data resmi dari Badan Pusat Statistik Departemen Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa persentase pemeluk Kristen tahun 1990 sekitar 5,8% dari jumlah penduduk Indonesia. Pada tahun 2000 terjadi penurunan menjadi 5,7%. Kemudian pendataan kembali terjadi tahun 2005 menunjukkan persentase jumlah orang Kristen masih tetap 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia (Nurdi, 2005).
Jumlah orang Kristen tidak bertambah, namun jumlah aliran dan denominasi gereja semakin meningkat. Peningkatan jumlah organisasi atau denominasi gereja seperti ini juga diungkapkan Makkelo (2010:153) dalam bukunya yang berjudul “Kota Seribu Gereja”, di mana tahun 1999 telah ada sekte aneh di Kota Manado yaitu The Satanic Church yang sering disebut gereja setan. Dia menambahkan, pada tahun 2004 jumlah gereja dari berbagai aliran dan denominasi di Kota Manado sebanyak 437 gereja yang terdata (2010:200). Tentu masih banyak lagi gereja yang tersebar di seluruh Indonesia, baik yang sudah terdaftar maupun yang belum terdaftar secara resmi di Dirjen Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia.
Bertambahnya gedung gereja disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: bertambahnya aliran gereja; bertambahnya denominasi gereja, dan bertambahnya jumlah orang Kristen. Pertambahan gedung gereja sebagai akibat dari peningkatan jumlah orang Kristen dapat dikatakan adalah keberhasilan sesuai dengan Amanat Agung Yesus Kristus. Akan tetapi, bertambahnya aliran dan denominasi gereja merupakan bentuk perpecahan gereja. Tuhan Yesus belum pernah memerintahkan untuk menambah jumlah aliran dan denominasi gereja, tetapi justru Dia mengingatkan agar umat-Nya pergi memberitakan Injil dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di dalam gereja-Nya.
Adanya perbedaan aliran dan denominasi gereja di atas terus dipertentangkan sampai saat ini. Perbedaan semacam ini dimulai dari hal yang paling kecil sampai ke hal yang paling mendasar.  Diawali dari perbedaan pendapat antara pemimpin gereja, pemimpin gereja dengan jemaat, perbedaan liturgis, dan selanjutnya ke hal yang paling krusial mengenai perbedaan doktrin. Hal ini kembali diingatkan oleh Makkelo (2010:155) bahwa beragamnya aliran yang muncul ini sebagai akibat perbedaan dalam menafsirkan Alkitab, perbedaan dalam menerapkan tata ibadah, dan perbedaan dalam metode Pekabaran Injil. Semua perbedaan ini pada akhirnya berujung pada perpecahan gereja yang melahirkan adanya berbagai bentuk aliran dan denominasi gereja baru, sehingga pertambahan gedung gereja pun tidak mungkin dielakkan.
C.    Gereja Yang Melawan
Pada umumnya bentuk gedung gereja pada setiap negara dan daerah memang berbeda-beda. Di wilayah Indonesia bentuk gedung gereja lebih mengikuti nuansa budaya daerah setempat. Hal ini dilakukan sebagai wujud dalam melestarikan budaya. Selain itu, ada juga yang mengikuti bentuk atau model gereja yang ada di beberapa negara Eropa dan Amerika. Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh para misionaris yang berasal dari latar belakang budaya serta negara yang berbeda-beda.
Dalam beberapa tahun terakhir bentuk dan model gedung gereja telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Setiap aliran dan denominasi gereja menggunakan ruko, rumah, hotel, mall, dan fasilitas sosial lainnya untuk melaksanakan kegiatan ibadah. Berubahnya bentuk dan model gereja ini disebabkan oleh sikap pemerintah yang mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang syarat dan pembatasan pembangunan tempat ibadah. Lokasi ini dipilih sebagai bentuk perlawanan orang Kristen terhadap kebijakan pemerintah.
Ada tiga kementerian yang harus bertanggung jawab dalam mengembalikan keharmonisan umat beragama yang sudah terjalin dengan baik selama ini, yaitu Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Hukum dan HAM. Keharmonisan interumat beragama, antarumat beragama, dan antarumat beragama dengan pemerintah terganggu atas kebijakan pemerintah tersebut. Diperparah lagi adanya sebagian anggota masyarakat yang tidak menyetujui pembangunan gedung gereja di daerah tersebut. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menghalangi pembangunan gedung gereja.
Lebih ironisnya lagi, ada beberapa gereja yang sudah memiliki ijin dan telah mendirikan gedung gereja selama bertahun-tahun pada akhirnya ditutup. Tidak jarang orang Kristen mengalami penganiayaan dari organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan agama tertentu. Kenyataan ini seakan-akan ada yang melegitimasi tindakan mereka. Pemerintah pun terkesan lepas tangan ketika terjadi konflik seperti ini dan pada akhirnya orang Kristen dituding sebagai biangnya.
Pemerintah mengeluarkan berbagai syarat sehingga secara tidak langsung melarang umat beragama atau orang Kristen pada khususnya untuk membangun gedung gereja. Umat beragama tidak bebas lagi beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya yang dijamin oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah harus mengkaji kembali SKB ini serta tidak boleh mencampuri secara mendalam tentang keyakinan atau agama seseorang. Bangsa ini tidak akan maju serta tidak bermartabat jika hanya ada satu agama yang mendiami bumi pertiwi ini.
Kehidupan orang Kristen pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan gedung gereja.  Gedung gereja merupakan sebuah identitas bagi orang Kristen. Gedung gereja juga berperan penting dalam pertumbuhan kualitas imannya. Gedung gereja atau rumah ibadah sebagai simbol agama yang kuat (Makkelo, 2010:142). Gedung gereja sangat penting dalam rangka melaksanakan seluruh kegiatan gerejawi serta memberikan kegairahan bagi umat Kristen dalam melayani sesamanya.
Kehadiran gedung gereja menjadi sarana dalam mempersatukan berbagai latar belakang kehidupan sosial umat Kristen seperti orang miskin dengan kaya, orang cacat dengan normal, orang berpendidikan dengan buta huruf, orang tidak berbudaya menjadi berbudaya, dan sebagainya. Keberadaan gedung gereja sama pentingnya dengan keberadaan tempat ibadah bagi agama lain. Setiap agama di seluruh wilayah Indonesia harus diijinkan untuk mendirikan tempat ibadah yang dilindungi oleh Pancasila, UUD 1945, serta pemerintah pusat dan daerah.
D.    Gereja Tempat Orang Berdosa
Keberadaan orang Kristen bukan hanya dilihat dari gedungnya saja tetapi juga menyangkut pribadi-pribadi anggota jemaat yang beribadah di dalamnya. Gereja yang bersifat jemaat berarti sebuah organisasi manusia yang bisa berbuat salah, berdosa kepada Allah (Griffiths, 1995:36). Oleh sebab itu, setiap pribadi orang Kristen yang telah dikumpulkan dalam gedung gereja perlu diajar dan dibimbing oleh pemimpin gereja yaitu pendeta atau penginjil. Walaupun sudah menjadi orang Kristen kemungkinan besar masih bisa berbuat dosa. Mereka senantiasa tetap diingatkan, diajar secara terus-menerus agar kembali pada tatanan hidup yang benar, beriman teguh, dan melayani Allah dengan cara yang benar.
Untuk membentuk karakter hidup orang Kristen yaitu gereja sejati harus didasarkan pada prosesnya Allah. Hal ini dikatakan oleh Sproul (2002:285) bahwa gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan, yaitu mereka yang telah dibeli oleh darah Kristus. Menjadi milik Tuhan berarti menunjuk kepada orang-orang yang dipanggil keluar dari rumah-rumah mereka untuk datang ke suatu tempat yaitu gereja (Riemer, 2002:60). Setiap orang yang mengaku Kristen sesungguhnya merupakan kumpulan orang-orang berdosa yang dipanggil oleh Allah melalui kuasa darah Yesus Kristus dengan tujuan diselamatkan.
Orang Kristen adalah pribadi yang sudah dipanggil dari dosa mereka dan dibenarkan oleh Yesus Kristus melalui karya penebusan di atas kayu salib. Karya keselamatan ini dimulai dari kelahiran, pelayanan, sengsara, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Yesus kembali. Setiap orang yang telah diselamatkan oleh Yesus dipersatukan di dalam gereja-Nya serta menggunakan Alkitab sebagai pedoman hidup dalam melaksanakan seluruh aktifitasnya.
Pengetahuan seseorang tentang isi Alkitab tidak menjamin dia tidak berbuat dosa. Para pemimpin gereja seperti Pendeta, penginjil, majelis jemaat, serta orang Kristen secara keseruhan bisa jatuh dan terjebak untuk berbuat dosa. Tanpa disadari pemimpin gereja dan orang Kristen pada umumnya melakukan dosa lewat pelayanan mereka. Pelayanan sosial gereja yang paling ngetren saat ini yaitu pengobatan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis, pembagian sembako, mendirikan rumah sakit, mendirikan sekolah, dan sebagainya. Pada konteks pelayanan ini biasanya gereja bisa terjebak untuk berbuat dosa. Oleh karena, mereka melakukan pelayanan itu hanya untuk kepentingan pribadi atau golongannya.
Segala bentuk pelayanan yang dilakukan oleh gereja pada dasarnya tidak salah. Akan tetapi, sebagian besar pemimpin gereja melakukan kegiatan pelayanan sosial mereka hanya untuk ambisi tertentu, kekuasaan, dan popularitas pribadi semata. Pada akhirnya organisasi gereja yang tidak bisa melakukan kegiatan yang sama sering dianggap bukan gereja. Setiap orang yang melakukan pelayanan untuk tujuan popularitas, maka dipastikan adanya unsur-unsur atau sifat manusia yang lebih ditonjolkan daripada kemuliaan Tuhan. Ketika realita semacam ini dipertontonkan maka gereja sudah kehilangan identitasnya sebagai lembaga kerohaniaan. Setiap gereja seharusnya mencerminkan dirinya sebagai garam dan terang di tengah-tengah komunitas Kristen maupun masyarakat yang belum percaya.
Setiap orang yang sudah menjadi Kristen kemungkinan masih bisa berbuat dosa. Ada tiga aspek penting yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen, yaitu:
1.   Kita bisa berdosa karena keinginan diri sendiri.
2.   Kita bisa berdosa karena pengaruh lingkungan.
3.   Kita bisa berdosa karena pengaruh iblis.  
Ketiga hal di atas dapat menjadi sumber kejatuhan manusia dalam dosa secara keseluruhan dan orang Kristen pada khususnya. Tidak mengherankan jika kita dapat menemukan orang Kristen yang dipenjara karena melakukan perbuatan dosa. Kendati mereka menggunakan nama-nama yang terdapat dalam Alkitab seperti Matius, Yohanes, Lukas, Paulus, dan lain-lain. Bukan hanya itu saja, pendeta, penginjil, dan majelis-majelis jemaat bisa berbuat dosa dalam pelayanan mereka. Biasanya dosa mereka tidak selalu mencuat kepermukaan. Dosa mereka selalu tertutupi oleh jubah kebesaran dan kedudukannya dalam gereja. Oleh sebab itu, siapa pun kita harus selalu bersandar dan memohon pengampunan dari Tuhan sepanjang nafas hidup kita di dunia ini.  


G.    Gereja Yang Berubah
Keberadaan gereja dewasa ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah awalnya. Walaupun sifat-sifat gereja sudah ada sejak Allah menciptakan Adam dan Hawa di Taman Eden, namun secara kelembagaan wujud gereja baru terlihat ketika para rasul mulai memberitakan Injil secara besar-besaran setelah Yesus Kristus naik ke sorga. Keberadaan gereja sangat jelas terlihat pada peristiwa Pentakosta di mana 3000 orang lebih yang percaya kepada Yesus Kristus, kemudian mereka dibaptis dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan di dalam gereja-Nya (Kisah Para Rasul 2:41-47)
Dalam perjalanan yang panjang inilah gereja masih terus mengalami perubahan sesuai konteksnya. Gereja terus belajar membenahi diri sebagai lembaga kerohanian yang ada di tengah-tengah dunia ini. Berdasarkan pengalaman ini membawa gereja untuk melihat jelas apa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi ke depan. Gereja harus belajar dari semua pengalaman yang sudah dialaminya serta mengevaluasi apa saja yang sudah dikerjakan bagi dunia yang terus mengalami perubahan yang radikal dalam setiap lini kehidupan manusia. 
Perubahan radikal semacam ini terjadi karena dilatarbelakangi oleh faktor yang timbul dari luar gereja maupun dalam gereja itu sendiri. Faktor dari luar gereja yaitu adanya tekanan-tekanan dari orang-orang yang tidak senang atas kehadiran gereja di sekitarnya. Mereka menganggap gereja sebagai lembaga yang mengancam komunitasnya, yang didasari atas adanya perbedaan agama dan keyakinan. Berbagai cara yang dilakukan untuk menghambat pertumbuhan gereja. Melarang pembangunan gedung gereja, serta melarang orang Kristen melaksanakan kegiatan ibadah di rumahnya seperti persekutuan doa, ibadah rumah tangga, dan berbagai kegiatan lainnya. 
Sementara faktor yang timbul dari dalam gereja diawali oleh orang-orang Kristen itu sendiri secara khusus para pemimpinnya. Mereka ingin merubah tatanan kehidupan gereja yang sudah ada sebelumnya. Kadang perubahan ini berdampak positif tetapi tidak sedikit juga dampak negatifnya. Dampak positif  yaitu pertumbuhan jumlah orang Kristen meningkat, sedangkan dampak negatifnya yaitu adanya sikap saling tidak menerima antara aliran dan denominasi gereja yang sudah ada. Oleh sebab itu, gereja terus mengalami perpecahan yang melahirkan berbagai ajaran, aliran, dan denominasi gereja baru (Makkelo, 2010:156)
Selain perubahan yang ditimbulkan oleh para pemimpin gereja, maka simpati warga jemaat terhadap lembaga gereja juga mengalami perubahan yang signifikan. Berbagai macam alasan yang diutarakan sebagai bentuk protes terhadap lembaga gereja maupun para pemimpinnya. Warga jemaat sering mengatakan bahwa dalam gereja terlalu banyak masalah, tidak memiliki waktu untuk pergi ke gereja, pemimpin gereja lebih tertarik pada uang daripada diri mereka, liturgi ibadah gereja sangat membosankan, dan lebih para lagi gereja dianggap bukan lembaga rohani lagi sehingga tidak ada Tuhan di dalamnya.
Paradigma orang Kristen di atas didasarkan pada pengalaman-pengalaman mereka di dalam gereja selama bertahun-tahun. Lembaga gereja diasumsikan sebagai sarana untuk memuaskan batin mereka yang sedang haus dan ditindas oleh jaman ini. Ketika pemimpin gereja tidak mampu menjawab pergumulannya, maka mereka kehilangan arah serta berubah sesuai konsep berpikirnya masing-masing. Tidak sedikit orang Kristen sering berpindah ke aliran dan denominasi gereja lain hanya untuk memenuhi segala kebutuhannya baik spiritual maupun jasmaninya. Inilah bentuk-bentuk tantangan gereja saat ini yang terus berubah sesuai konteks jamannya.
Perubahan paradigma gereja dewasa ini telah dipengaruhi oleh sekularisme dan kapitalisme. Setiap aliran dan denominasi gereja berlomba-lomba memenuhi permintaan jemaat sebagai langkah antisipasi agar tidak pindah ke gereja lain. Yang paling mencolok lagi adanya daya tarik untuk “memancing” anggota gereja lain untuk pindah ke gerejanya. Gereja berusaha menyediakan berbagai fasilitas yang sangat memanjakan jemaat, seperti adanya sarana transportasi antar jemput, bagi-bagi sembako, beribadah di hotel mewah atau mall, membangun gereja super megah, full musik, dan lain-lain. Semua fasilitas gereja ini disiapkan dengan terpaksa untuk memenuhi kebutuhan psikologis jemaat dan bukan membentuk kualitas serta karakter kerohaniannya kepada Allah.
Melihat kembali awal kekristenan menunjukkan bahwa jemaat dipanggil oleh Allah sehingga mereka datang beribadah ke gereja. Jemaat membutuhkan gereja untuk memulihkan hubungannya yang rusak dengan Allah. Justru saat ini warga jemaat jual mahal kepada gereja atau pemimpinnya. Terlihat jelas bahwa gereja yang membutuhkan jemaat, sehingga jemaat merasa bisa memilih gereja sesuai kebutuhan psikologis maupun keinginan hatinya. Ketika gereja sudah kehilangan jati diri serta tugas pokok utamanya, maka jemaat bisa mengatur gereja sesukanya. Mengkritik pemimpin gereja karena punya pengaruh di dalam gereja tersebut.
Ketika pemimpin gereja berusaha mengakomodir segala bentuk tuntutan jemaat kendati bertentangan dengan Firman Tuhan, maka pada saat itulah gereja telah kehilangan jati dirinya. Gereja dapat diidentikan dengan pasar gelap yang menjual berbagai kebutuhan manusia yang murah meriah. Dahulu gereja adalah lembaga rohani, tetapi sekarang menjadi lembaga duniawi yang dihias dengan unsur kerohanian tentunya. Perubahan cara pandang gereja seperti ini menjadi tanggung jawab semua orang Kristen untuk memperbaharuinya kembali agar sesuai dengan rencana agung Tuhan Yesus dalam gereja-Nya.
E.    Gereja Yang Bertumbuh
Tujuan akhir keberadaan gereja di dunia ini ialah menghadirkan kerajaan Allah. Melihat perkembangan gereja dewasa ini bisa dikatakan mengalami pertumbuhan secara kualitas maupun kuantitas. Kendati kedua aspek pertumbuhan ini diperlukan waktu khusus untuk mengevaluasinya serta melakukan penelitian secara mendalam sejauhmana peningkatan kualitas dan kuantitas tersebut.
Secara kasat mata menunjukkan gereja telah bertumbuh dengan sangat pesat dan luar biasa dimana hampir semua suku, bahasa, etnis, budaya, dan bangsa telah memiliki gereja atau pernah mendengar kekristenan. Sebagian mereka telah mendengar berita sukacita dari Allah yaitu Yesus Kristus Sang Juru Selamat umat manusia. Keberadaan gereja ada yang dapat dilihat secara langsung, namun tidak sedikit juga mereka yang mengalami penganiayaan karena percaya Yesus dipastikan beribadah secara diam-diam dan bersembunyi.
Orang Kristen tidak perlu cemas dan takut dengan segala medan pelayanan. Ada kuasa tangan Tuhan yang tidak terlihat yang selalu menopang. Gereja semakin dibabat semakin merambat. Gereja semakin ditindas jutru semakin bertumbuh karena pertolongan-Nya. Oleh sebab itu, gereja bukan tujuan manusia melainkan milik dan tujuan Allah. Orang Kristen diutus oleh Allah untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah ialah pemerintahan Allah atas seluruh kehidupan di dunia ini. Gereja tidak memiliki tujuan untuk dirinya sendiri. Kerajaan itu telah diawali melalui diri Yesus Kristus. Perjuangan itulah yang memungkinkan gereja bertumbuh. Gereja yang tidak berjuang adalah gereja yang tidak bertumbuh. Pertumbuhan itu mengarah ke dalam dan ke luar gereja itu sendiri.
1.    Pertumbuhan Gereja Ke Dalam
Pertumbuhan ke dalam berarti gereja makin berakar pada Kristus. Pertumbuhan ke luar berarti gereja makin mengembangkan kesaksian hidup dan pelayanannya di tengah-tengah masyarakat. Sering ada gereja yang berpendapat bahwa untuk melaksanakan tugasnya keluar harus terlebih dulu membereskan masalah-masalah di dalam. Konsep berpikir demikian tidak ada salahnya, tetapi alangkah indahnya jika dilakukan secara bersama-sama. Lebih baik lagi gereja menghindari diri dari berbagai masalah di dalam gereja itu sendiri. Karena sudah pasti kita tidak mungkin menjadi berkat bagi orang lain, apabila kita sendiri belum menjadi orang Kristen yang benar di rumah kita sendiri
Pertumbuhan ke dalam mengarah pada kedewasaan iman setiap orang Kristen di dalam Yesus Kristus. Mereka tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin pengajaran atau disesatkan oleh manusia yang mencari keuntungan dan popularitas semata. Pengetahuan mereka tentang Kristus pun makin bertambah-tambah setiap saat. Jemaat yang tumbuh ke dalam seperti ini juga hidupnya dilimpahi dengan ucapan syukur dalam suka maupun duka untuk kemuliaan Allah (1 Tesalonika 5:18; Kolose 2:6).
Pertumbuhan ke dalam gereja merupakan langkah awal pertumbuhan gereja selanjutnya. Dalam setiap gereja pasti ada masalah besar atau pun kecil. Sering ada warga gereja yang rewel karena masalah kecil, kemudian pindah gereja atau membuat aliran dan denominasi gereja baru. Orang yang suka pindah-pindah gereja, memberikan kesan bahwa bergereja bagaikan lembaga sosial atau perusahaan. Di dalam gereja segala masalah dapat diselesaikan. Tidak ada satupun masalah di dunia yang berdosa ini yang tidak bisa diselesaikan oleh gereja.
2.    Pertumbuhan Gereja Ke Luar
Pertumbuhan ke luar yaitu memiliki tanggung jawab atas Amanat Agung Tuhan Yesus. Tuhan menyuruh setiap jemaat-Nya supaya mewartakan Injil dan melayani orang lain. Bersama-sama dengan Tuhan, gereja membuktikan bagaimana mengasihi sesama manusia dan cinta lingkungannya masing-masing. Setiap gereja dipanggil supaya menjadi kawan sekerja-Nya dalam rencana penyelamatan manusia dan dunia ini. Untuk tugas ini kebanyakan gereja bersikap introvert. Artinya, gereja hanya berwawasan dan bersikap mementingkan diri sendiri.
Pertumbuhan gereja keluar dapat kita lihat dalam kehidupan jemaat mula-mula. Dalam situasi keterbatasan biaya serta menghadapi berbagai penganiayaan, mereka justru bertumbuh secara luar biasa. Mulai dari kesaksian para murid sehingga bertambah jumlah orang percaya manjadi tiga ribu orang, lima ribu orang, dan terus bertambah sampai saat ini. Mereka tidak memberitakan Injil dengan dasar aliran dan denominasi gereja tertentu, tetapi didasari oleh keteladanan di dalam Yesus Kristus. Tidak ada aliran dan denominasi, hanya gereja Kristus yang diagungkan.
Beberapa sikap yang ditujukan oleh orang Kristen atau gereja mula-mula sebagai hasil pertumbuhan gereja yang dapat dilihat secara nyata, yaitu:
a)     Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul yaitu mendengar dan melakukan Firman Tuhan. Ketekunan inilah yang menjadikan mereka kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran sesat kendati mereka menderita.
b)     Mereka bertekun bersekutu, berdoa, dan saling membantu dalam kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka tidak menunjukkan kekayaan mereka, melainkan kebersamaan di dalam Tuhan.
c)     Mereka bertekun mengikuti Perjamuan Kudus dan perjamuan kasih.
d)     Mereka disukai oleh semua orang atau masyarakat di sekitarnya. Masyarakat mengagumi persekutuan dan cara hidup mereka. Mereka sehati sepikir.  Para pemimpinnya pun bersikap tidak saling menjegal, melainkan bekerjasama.
e)     Mereka semakin bertambah banyak, sehingga Kristus dimuliakan.
Berdasarkan sikap-sikap jemaat pertama di atas setidaknya memberikan kita harapan bahwa gereja saat ini pasti lebih baik dan bertumbuh lebih banyak lagi pada masa yang akan datang. Pertumbuhan yang diharapkan bukan pertambahan aliran dan denominasi gereja, melainkan pertumbuhan secara kualitas iman dalam mewujudkan kesatuan gereja-Nya. Selain itu, pertumbuhan secara kuantitas bisa tercapai jika kesatuan gereja-Nya tercipta. Tugas untuk memenangkan jiwa bagi Kristus akan lebih banyak lagi karena dilakukan secara bersama-sama tanpa melihat perbedaan aliran dan denominasi gereja.
F.    Gereja Yang Melayani
Pada umumnya orang Kristen setidaknya memiliki tiga tugas pokok pelayanan dalam dunia ini. Tugas pokok yang dimaksud antara lain: pelayanan marturia (bersaksi), pelayanan koinonia (bersekutu), dan pelayanan diakonia (pelayanan sosial). Apabila gereja sudah mampu mewujudkan tugas pokok ini dengan benar maka gereja sudah menjadi bagian penting di tangah-tangah masyarakat dan mampu memberi warna bagi dunia. Kehadiran gereja harus menghadirkan kasih Kristus kepada semua orang. Sungguh disayangkan tugas pokok ini belum terwujud secara maksimal sampai detik ini. Hal ini disebabkan gereja masih berkutat pada persoalan perdebatan atas perbedaan aliran dan denominasinya masing-masing.
Pertama, pelayanan marturia merupakan sikap orang Kristen  (gereja) yang telah menerima anugerah keselamatan dari Allah. Mereka dipanggil untuk bersaksi di tengah-tengah dunia ini. Pelayanan kesaksian ini harus sesuai dengan keteladanan Kristus. Orang Kristen tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri, melainkan dipanggil di tengah-tengah bangsa yang memiliki corak dan karakter yang beragama. Orang Kristen dipanggil dan diperintahkan oleh Allah untuk berada di lingkungan orang-orang yang membenci Yesus dan dirinya. Kehadiran orang Kristen di tengah masyarakat harus membawa berita sukacita melalui kesaksian hidupnya. Jadi, gereja yang sehat secara rohani tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan menjadi alat bagi Allah untuk menyatakan visi-misi-Nya dalam dunia ini.
Kedua, pelayanan gereja yang bersifat koinonia merupakan perwujudan dari persekutuan antara Allah dengan orang Kristen, antara sesama orang Kristen, dan orang Kristen dengan agama lain. Dalam persekutuan inilah setiap orang saling menerima sebagai saudara seiman, sehati sepikir, dan satu di dalam Kristus tentunya. Istilah persekutuan ini lebih dalam dimaknai oleh rasul Paulus dalam bahasa simbolisnya yang mengatakan: “persekutuan dalam darah dan tubuh Kristus” (1 Kor. 10:16; bnd. 1 Kor. 1:9). Semua orang percaya itu mendapat bagian di dalam Kristus.
Terakhir pelayanan diakonia berarti gereja harus mampu melaksanakan tugasnya sebagai pribadi yang melayani orang lain. Tuhan Yesus memberi keteladanan dalam hal melayani. Dia datang ke dalam dunia bukan untuk dilayani melainkan melayani (Markus 10:45). Jadi, setiap orang yang meyakini dirinya sebagai umat pilihan Allah terpanggil untuk melayani orang lain sesuai dengan talentanya. Akan tetapi, seberapa banyak orang Kristen yang sudah memahami tugas pelayanan ini? Harus jujur mengakui hanya segelintir orang saja yang telah dan berusaha menjadi pribadi-pribadi pelayan. Sebagian besar orang Kristen memiliki keinginan besar untuk dilayani oleh sesamanya.
Kita dipanggil dan diselamatkan agar menjadi berkat bagi seluruh lapisan masyarakat. Alkitab bersaksi bahwa Abraham dipanggil oleh Allah dan menjadi berkat bagi masyarakat sekitarnya pada waktu itu. Hal inilah yang ditegaskan oleh Calvin bahwa manusia diselamatkan bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi menjadi berguna bagi orang lain (Sagala, 2011:36). Maka hidup orang Kristen hendaknya menjadi hidup yang berbagi dengan orang lain kendati memiliki latar belakang sosial yang  berbeda dengan dirinya sendiri.
Menjadi Kristen atau menjadi warga gereja berarti hidupnya senantiasa bersekutu dengan orang lain. Kristus memberikan berkat rohani dan jasmani, tidak bertujuan untuk dimakan sendiri. Sifat Allah yang pemurah membentuk umat-Nya menjadi umat yang pemurah. Sifat pelit atau kikir bukan sifat Kristiani, melainkan sikap orang egoistis. Kumpulan orang semacam ini pada prinsipnya hidupnya tidak mengucap syukur atas berkat-berkat yang diterimanya dari Allah. Mereka selalu merasa kekurangan sampai dia meninggal dunia.
Kebanyakan orang mengikuti konsep gereja yang eksklusif. Konsep ini cenderung mengakibatkan gereja menutup diri baik kepada sesama orang Kristen terlebih lagi terhadap masyarakat umum. Bagaimana kita menjadi berkat, garam, dan  terang di tengah-tengah dunia ini? Gereja yang tertutup adalah gereja yang melarikan diri dari panggilan-Nya. Ketika gereja memiliki sikap eksklusif bagi masyarakat, sesungguhnya gereja itu bukan milik Kristus. Kita harus terbuka sebab Kristus mengasihi semua orang (Yohanes 3:16). Oleh karena itu, orang Kristen dan jemaat hendaknya berwawasan dunia sentris, tidak berwawasan gereja sentris semata. Kita berwawasan dunia sentris untuk bisa memahami dan menerapkan dunia spiritualitas kepada semua orang.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain mengerti kebenaran dan kebaikan jika kita sendiri belum melakukannya. Paulus mengingatkan semua orang Kristen secara khusus pemimpin-pemimpin gereja yang mengetahui kebenaran Allah agar selalu berbuat baik kepada semua orang. Firman Tuhan berkata: “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang, Tuhan sudah dekat!” (Filipi 4:5, bnd. Galatia 6:10; Kejadian 12:2). Kebaikan adalah buah-buah Roh (Galatia 5:22). Kita dipanggil supaya “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Yesus Kristus selalu memasyarakat dan blusukan mulai sejak kelahiran sampai kenaikan-Nya ke sorga.
Untuk menjadi gereja yang benar, tidak tersedia pilihan lain kecuali menjadi gereja yang memasyarakat dan melayani sesuai dengan teladan Kristus Yesus. Demikian juga orang Kristen harus menjadi pribadi-pribadi yang mewartakan kasih Kristus di dalam seluruh lapisan masyarakat. Tugas ini sesuai dengan panggilan kita supaya menjadi garam dunia, terang dunia, dan kota di atas gunung (Matius 5:13-16). Membangun hubungan yang dialogis dengan semua pihak di dalam masyarakat sebagai strategi dalam memberitakan Injil. Tujuan utama Yesus Kristus menyelamatkan kita yaitu untuk menyelamatkan orang lain yang belum percaya kepada-Nya melalui tiga tugas pokok panggilan pelayanan gereja yaitu marturia, koinonia, dan diakonia.


G.    Gereja Yang Rohaniah
Gereja yang bersifat rohani sering diidentikan dengan gereja yang tidak kelihatan (Invisible Church). Bagi kalangan gereja reformed istilah ini bukan hal yang baru. Gereja tidak kelihatan menunjuk pada kumpulan orang-orang pilihan Allah secara khusus yang tidak bisa ditentukan oleh mata jasmani yang  berdosa. Sementara gereja kelihatan lebih bersifat manusia yang terdiri dari keseluruhan orang Kristen, sedangkan gereja tidak kelihatan lebih berorientasi pada konsep orang Kristen secara rohani atau umat pilihan Allah itu sendiri.
Dalam pandangan Prime (2001:150) gereja ini terdiri dari orang-orang dari tiap bangsa, tiap negeri dan tiap abad, yang sudah dipilih oleh Allah Bapa, diperoleh dengan darah Kristus dan dikuduskan oleh Roh Kudus. Hal senada juga dikemukakan oleh Tong (1999:41) dengan mengutip pendapat Calvin yang menekankan bahwa gereja adalah kumpulan atau komunitas orang-orang yang dipilih. Setiap orang yang dipilih oleh Allah sepakat untuk mengikuti kehendak Allah dan Firman-Nya.
Di dalam gereja yang kelihatan secara organisasi di sanalah terdapat juga warga gereja yang tidak kelihatan yang disebut umat pilhan Allah. Mereka beribadah sambil mengenal diri sebagai orang yang tidak layak memuliakan Allah. Dalam analisis Berkhof (1997:26) mengatakan bahwa baik Calvin maupun Luther sama-sama menekankan kenyataan bahwa ketika mereka berbicara tentang gereja yang nampak (kelihatan) dan tidak nampak (tidak kelihatan), mereka tidak menunjuk kepada dua macam gereja yang berbeda, tetapi kepada dua aspek dari satu Gereja Yesus Kristus. Umat pilihan Allah ini tidak dapat ditentukan oleh mata jasmani manusia. Allah sendiri yang memilih mereka sehingga setiap pribadi yang dipilih-Nya pasti merasakan serta menjawab panggilan Allah yang dasyat tersebut
Pemilihan Allah atas umat-Nya tidak didasarkan pada perbuatan baik seseorang, melainkan oleh anugerah Allah semata. Allah memilih sebelum mereka lahir di dunia yang penuh dosa ini. Dalam kitab Efesus 1:3-4 menegaskan: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” 
Gereja dikatakan tidak kelihatan karena pada dasarnya bersifat spiritual. Oleh sebab itu, gereja ini terdiri atas sejumlah orang pilihan Allah, yang telah, sedang, dan akan dihimpun menjadi satu persekutuan sejati di bawah pemerintahan Kristus. Dialah yang menjadi pemimpin atas semua umat pilihan-Nya. Dengan demikian, persekutuan orang percaya dengan Kristus merupakan sebuah persekutuan rohani yang membentuk satu ikatan yang tidak kelihatan secara jasmani. Berkat keselamatan seperti kelahiran kembali, pertobatan yang murni, iman yang benar, dan persekutuan spiritual, semuanya menjadi identitas baru bagi umat pilihan Allah.
Selanjutnya, Hoeksema (1985:567) menjelaskan dengan mengutip Pengakuan Iman Belgia: We believe and profess, one catholic or universal church , which is an holy congregation, of true Christian believers, all expecting their salvation in Jesus Christ, being washed by his blood, sanctified and sealed by the Holy Ghost.  This church hath been from the beginning of the world, and will be to the end.  (Kita percaya dan mengaku satu Gereja yang Katolik atau Am, yang mana adalah sebuah jemaat yang kudus, dari orang-orang yang sungguh percaya, semuanya mengharapkan keselamatan mereka di dalam Kristus, yang dicuci oleh darah-Nya, yang dikuduskan dan dimateraikan oleh Roh Kudus. Gereja ini sudah ada sejak awal dunia dan akan ada sampai akhir zaman)
Dalam Pengakuan Iman Rasuli dikatakan juga bahwa setiap orang Kristen mengakui adanya gereja.  Pengakuan tentang gereja dalam hal ini bukan hanya gereja yang kelihatan secara organisasi atau sekumpulan orang yang ada di dalam gereja itu, tetapi juga menunjuk semua orang pilihan Allah, termasuk juga mereka yang sudah mati (Calvin, 2003:226). Keyakinan inilah yang membuat Tong (1999:41) berani berkata bahwa baik Luther maupun Calvin menegaskan bahwa gereja adalah gereja yang kelihatan dan yang tidak kelihatan (Visible Church and Invisible Church).
Gereja ini bersifat rohani karena terdiri dari beberapa pribadi manusia berdosa yang telah tebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Pada dasarnya gereja yang benar sampai saat ini sangat sulit untuk ditentukan. Namun yang pasti bagi kita bahwa gereja yang benar adalah gereja Yesus Kristus. Tanpa pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib maka gereja yang benar tidak pernah ada di dunia ini. Jadi, gereja yang ada di tengah-tengah dunia sekarang ini adalah gereja yang kelihatan dan sekaligus tidak kelihatan.  Di dalam gereja yang kelihatan terdapat umat pilihan Allah atau gereja yang tidak kelihatan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar