Gereja Pecah

Gereja Pecah

Minggu, 30 Agustus 2015

BAB VIII ALIRAN-ALIRAN GEREJA

Berbagai aliran gereja sudah berkembang di Indonesia. Kehadiran aliran ini sebuah cerminan atas gereja-gereja yang ada di seluruh dunia. Bertambahnya aliran gereja maka denominasi gereja pun ikut mengalami peningkatan. Apakah pertambahan aliran dan denominasi gereja ini menunjukkan peningkatan jumlah orang Kristen? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kita melihat sejumlah aliran gereja yang sudah ada dan berkembang di Indonesia sampai saat ini.  
A.    Aliran Lutheran
Cikal bakal agama Kristen Protestan tentu tidak terlepas dari reformasi Marthin Luther yang puncaknya tanggal 31 Oktober 1517. Kendati dia lahir dari keluarga sederhana tanggal 10 Nopember 1483 di Eisleben, namun semangatnya dalam memperbaharui sistem pelayanan gereja tidak pernah pudar. Reformasi ini berawal di Wittenberg-Jerman pada saat Yohanes Tetzel menjual surat pengampunan dosa atas perintah Paus Leo X di Roma. Reformasi yang dilakukannya tidak bertujuan merusak gereja, melainkan untuk mengingatkan Paus agar kembali menerapkan praktek-praktek pelayanan gerejawi sesuai dengan Alkitab. 
Dalam pergumulan dan perjuangan yang cukup lama membuat Luther akhirnya dikeluarkan dari jabatannya sebagai imam di GKR. Namun dia terus menyuarakan kebenaran yang diyakininya berdasarkan Alkitab. Akibat reformasinya sebagian jemaat dari GKR memisahkan diri kemudian mengikutnya. Kehadiran Luther di tengah-tengah mereka menjadi sumber inspirasi untuk membangun sebuah paradigma baru. Para pengikut Luther pada akhirnya disebut aliran Lutheran.
Setelah peristiwa reformasi dan teristimewa ketika Luther meninggal dunia tanggal 18 Februari 1546, maka agama Kristen Protestan terpecah-pecah dalam berbagai aliran dan denominasi gereja sampai saat ini. Memang sebuah pekerjaan yang sulit untuk menentukan secara pasti gereja yang beraliran Lutheran secara murni. Walaupun demikian, setidaknya melalui The Lutheran World Federation (LWF) yang berdiri tahun 1947 dan Rheinische Missions Gesellschaft (RMG) yaitu lembaga pekabaran Injil yang ditangani oleh aliran Lutheran dan Calvinis dapat memberikan petunjuk ciri khas aliran ini. Beberapa gereja yang menyebut dirinya beraliran Lutheran sekaligus Calvinis, antara lain: HKBP, GKPS, GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GKPA, GKPM, BNKP, ONKP, AMIN, dan sebagainya.
Beberapa pokok ajaran gereja yang beraliran Lutheran secara umum, yaitu:
a.    Berdasarkan pada sola scriptura (hanya oleh Firman Allah), sola gratia (hanya oleh Anugerah), dan sola fide (hanya oleh Iman).
b.   Sakramen terdiri atas dua bagian yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Baptisan kudus setara dengan sunat. Baptisan dilakukan secara percik bagi anak-anak atau orang dewasa yang baru percaya. Perjamuan kudus disebut konsubstansiasi yaitu pada saat makan roti dan minum anggur maka hakikat tubuh dan darah Kristus hadir dalam diri kita secara nyata.
c.    Jabatan gereja ditetapkan oleh Allah sebagai pelaksana fungsi pelayanan Firman dan Sakramen. Dalam hal ini pendeta melaksanakan tugas pengajaran dan penggembalaan yang dibantu oleh penatua, sedangkan diaken untuk pelayanan sosial.
d.   Suasana ibadah biasanya dilengkapi dengan lilin dan salib di altar. Khotbah menjadi pusat ibadah. Nyanyian dan musik pada umumnya memakai musik Gregorian dan Kidung Jemaat. Namun saat ini puji-pujian dalam gereja ini sudah banyak mengalami perubahan dan percampuran dengan musik kontemporer lainnya.
B.    Aliran Calvinis
Aliran Calvinis dipelopori oleh Johannes Calvin (Jean Cauvin) yang lahir di Noyon-Perancis Utara tanggal 10 Juli 1509. Gerakan reformasi diawali di Perancis tahun 1534 kendati dia sendiri sebagai anggota GKR. Pengaruh Calvin terlihat dalam perdebatan konfesional gerejawi sepanjang abad ke-17, sehingga tradisi ini kemudian dikenal sebagai Calvinisme. Calvinisme adalah sebuah sistem teologis dengan pendekatan kepada kehidupan orang Kristen yang menekankan kedaulatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu.
Aliran Calvinis mulai berkembang melalui penginjilan para misionaris abad ke-19 dan 20 di Jerman, Belanda, Amerika, Korea, Negeria, dan termasuk Indonesia yang sering disebut gereja Reformed. Memang jarang kita menemukan gereja dengan nama Calvinis, tetapi beberapa gereja yang bercirikan Calvinisme atau dipengaruhi oleh paham Calvin telah berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengetahui secara pasti aliran ini harus didasarkan pada pengakuan pemimpin gereja tersebut. Umumnya gereja ini tidak menggunakan nama Calvin dan juga tidak menganut paham Calvin secara murni.
Pokok ajaran Calvin tidak jauh berbeda dengan Luther. Kedua tokoh gereja ini saling melengkapi satu sama lainnya. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagian besar Calvin melengkapi dan memperbaharui ajaran Luther yang masih dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan biarawan di dalam Gereja Katolik Roma pada waktu itu. Pokok ajarannya dapat ditelusuri dalam buku Institutio, yaitu:
1.   Alkitab adalah Firman Allah yang satu-satunya sumber ajaran gereja yang benar (sola scriptura).
2.   Keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia Allah (sola gratia) melalui iman kepada Yesus Kristus (sola fide).
3.   Predestinasi adalah karya pemilihan Allah atas orang-orang berdosa berdasarkan anugerah-Nya yang tak terbatas.
4.   Hukum Taurat memiliki 3 fungsi utama, yaitu: menyatakan kehendak Allah, menyadarkan manusia atas dosanya, dan pedoman bagi manusia yang sudah dibenarkan untuk mengatur kehidupannya agar sesuai kehendak Allah.
5.   Gereja adalah persekutuan orang yang sudah diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, sehingga pemberitaan Firman Allah dan pelayanan sakramen harus dilakukan dengan benar.
6.   Jabatan gereja terdiri atas empat, yaitu: pendeta (gembala), guru, penatua, dan diaken.
7.   Sakramen baptisan kudus dilayankan dalam ibadah jemaat secara percik. Baptisan sebagai simbol keikutsertaan seseorang dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Baptisan tidak menyelamatkan serta bukan syarat untuk memperoleh keselamatan.
8.   Sakramen perjamuan kudus merupakan tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk mengingat karya pengorbanan Kristus di kayu salib. Pada saat perjamuan kudus roti dan anggur tidak berubah bentuknya, tetapi sebagai simbol dari tubuh dan darah Yesus Kristus.
9.   Puji-pujian yang dipakai di gereja Calvinis adalah nyanyian Mazmur. Mazmur dipahami sebagai nyanyian yang paling layak untuk memuji Allah karena terdapat dalam Alkitab dan ciptaan Roh Kudus yang ditulis oleh para hamba-hamba-Nya.
Secara singkat pokok ajaran Calvin yang paling populer yaitu doktrin rahmat sebagaimana diuraikan Baan (2009) dengan singkatan TULIP: Total depravity yaitu kerusakan total, Unconditional election yaitu pemilihan tanpa syarat, Limited atonement yaitu penebusan terbatas, Irresistible grace yaitu anugerah yang tidak dapat ditolak, dan Perseverance of the saints yaitu ketekunan orang-orang kudus.
Dengan melihat sejumlah pokok ajaran di atas maka gereja yang beraliran Calvinis yaitu: GKPB, GPIB, GMIT, GKI, GPM, dan sebagainya. Kendati belum sepenuhnya menerapkan paham Calvin dalam setiap aspek pelayanannya. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar gereja Calvinis justru masih mengadopsi ajaran dari gereja lain, yang sebelumnya sangat bertentangan dengan Calvin itu sendiri.
C.    Aliran Anglican
Aliran Anglican atau Church of England merupakan salah satu bukti bahwa orang Inggris pernah menjajah suatu wilayah tertentu di dunia. Perkembangan aliran ini terasa pada saat kepemimpinan raja Henry VIII (1509-1547) di Inggris. Dia memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma sekitar tahun 1533 karena konflik dengan Paus Clemens di Roma. Raja Henry meminta untuk bercerai dengan istrinya Catharina dari Aragon yaitu putri Spanyol dengan alasan belum memiliki anak laki-laki dari pernikahannya. Kemudian meminta kepada Paus agar diijinkan untuk menikahi pembantunya yang bernama Anne Boleyn. Tentu permintaan ini tidak dikabulkan oleh Paus karena bertentangan dengan Alkitab.
Dalam pendangan Aritonang (2000:86) menegaskan ada tiga faktor mendasar yang memicu pemisahan dari Gereja Katolik Roma ke aliran Anglican, yaitu: pertama, hasrat raja untuk mendapatkan anak laki-laki untuk mewarisi tahta; kedua, tumbuhnya perasaan nasionalisme dan anti-klerikalisme; ketiga, meluasnya gagasan-gagasan Luther. Dari penegaskan ini membuktikan bahwa akibat pengaruh kekuasaan, kepentingan pribadi, dan tujuan popularitas menjadi pemicu perpecahan gereja.
Aliran Anglican di Indonesia secara resmi berdiri pada tahun 1829 dengan nama British Protestant Community at Jakarta di Jalan Arif Rahman Hakim sekitar tugu Pak Tani Jakarta Pusat. Hal ini terwujud melalui London Missionary Society (LMS) yang mengutus Pdt. W.H. Medhurst pada Januari 1822 yang berlatar belakang gereja Presbyterian. Selanjutnya Pdt. J.R. Denyes dari Gereja Methodist Episcopal Amerika pada tahun 1905-1907 ikut mengambil bagian dalam memajukan aliran ini, dan sebagainya.
Selain di Jakarta ternyata aliran ini berkembang di Surabaya yang sebagian besar anggotanya orang Inggris. Kehadirannya diawali pada sebuah yayasan The Congregation of British Protestans of East Java pada tahun 1928. Dengan kegigihan dan perjuangan jemaat maka yayasan ini berhasil membangun gedung gereja pada bulan Mei 1931 yang bernama Christ Church. Pada dasarnya aliran ini sangat kompromi dengan berbagai aliran dan denominasi gereja yang ada di Indonesia maupun di luar negeri.
Untuk bisa membedakan aliran ini maka perlu kita melihat beberapa pokok ajaran yang menjadi ciri khasnya, yaitu:
1.   Otoritas di dalam gereja terdiri dari 3 unsur, yakni: Alkitab, tradisi, dan akal budi.
2.   Inkarnasi yaitu Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Inkarnasi ini dipahami dalam 3 pokok penting, yaitu: pertama, sekalipun manusia tidak berdosa, namun Allah tetap berinkarnasi di dalam Yesus Kristus; kedua, dosa ada karena pemberontakan manusia kepada Allah; ketiga, gereja harus terbuka terhadap seluruh pengalaman karena yang baik dan jahat menjadi sumber pemahaman diri kita di hadapan Allah.
3.   Sakramen terdiri atas perjamuan kudus dan baptisan kudus. Selain itu upacara gerejawi yang mengandung nilai sakramental (bukan sakramen) yakni peneguhan sidi, pengakuan dosa, ucapara penahbisan, upacara pernikahan, dan perminyakan orang sakit. Anak-anak yang meninggal sebelum dibaptis tidak mendapat hukuman dari Allah. Baptisan dilakukan secara percik ataupun selam serta menambahkan nama baptis di belakang namanya yang disaksikan oleh bapa dan ibu seraninya.
D.    Aliran Mennonit
Aliran Mennonit dimulai oleh seorang Pastor dari Gereja Katolik Roma yang bernama Menno Simons. Dia dilahirkan di kota Witmarsum di Friesland Belanda tahun 1496 dan meninggal pada 31 Januari 1561. Aliran ini dapat digolongkan dalam kelompok gereja Anabaptis yang menolak baptisan anak-anak dan hanya mengakui baptisan percik dewasa. Perlu disadari bahwa aliran ini sebagai perpecahan dari aliran gereja Anabaptis yang ada di Swiss dan Jerman.
Berkembangnya aliran Menonit adalah jawaban atas kekecewaan para pengikutnya terhadap reformasi yang telah dilakukan oleh Luther di Jerman, Calvin di Perancis, dan Zwingli di Swiss yang kurang radikal. Ditambah lagi sikap Jan Matthijs dan pengikutnya dari aliran Anabaptis di Belanda yang memaksa masyarakat untuk menjadi pengikutnya dengan cara kekerasan serta ancaman senjata pada saat itu. Jemaat yang tidak setuju dengan paham Anabaptis keluar menjadi pengikut Menonit. Sepintas terlihat aliran ini sebuah gerakan reformasi yang menuju demokrasi radikal. Mereka menganut garis moderat yang anti terhadap kekerasan seperti perang, perceraian, poligami, perkelahian, dan sebagainya.
Pemahaman mereka tentang demokrasi radikal yaitu setiap insan manusia tidak diperkenankan menyakiti, menghakimi, dan menganggap diri lebih baik dari insan yang lain di dunia. Bisa dikatakan aliran ini lebih menekankan pada persamaan hak di hadapan Tuhan. Setiap anggota jemaatnya tidak diperbolehkan menjadi pejabat kemiliteran, kepolisian, hakim, atau bidang-bidang lain yang bernuansa kekerasan dan penindasan. Anggotanya selalu dianjurkan untuk berbuat baik dengan berpedoman pada khotbah Tuhan Yesus yaitu “Khotbah di Bukit”.
Dalam menjalankan ajarannya selalu menggunakan demokrasi radikal. Menurut Mouffe (1984:143) sebagai pewaris Althusser serta membandingkannya dengan teori hegemoni Gramsci menjelaskan bahwa demokrasi radikal bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat di mana semua orang, apa pun jenis kelaminnya, ras, dan posisi ekonomis, akan berada pada situasi efektif kesetaraan dan partisipasi di mana tidak ada basis bagi diskriminasi. Jadi, persamaan derajat dan hak hidup bagi manusia menjadi prioritas utama dalam aliran Menonit.
Aliran Menonit menolak kekerasan dan diskriminasi,  tetapi di sisi lain mereka konflik dengan Luther, Calvin, dan Anabaptis. Yang paling menonjol yaitu adanya perubahan konsep dan logika berpikir tentang pelaksanaan baptisan kudus. Baptisan dilayankan bagi orang dewasa secara percik. Selain dewasa secara jasmani juga harus dewasa secara rohani. Seseorang yang dewasa secara jasmani belum tentu dewasa secara rohani. Dewasa secara rohani berarti sungguh-sungguh menerima panggilan pertobatan, hidup baru, dan berperilaku sesuai kehendak Allah.
Walaupun baptisan percik dewasa dilaksanakan di gereja ini, namun mereka tidak menggunakan istilah sakramen baptisan melainkan penetapan baptisan. Pemakaian istilah ini menunjukkan bukan hanya pendeta yang berhak melayankan upacara-upacara gerejawi, tetapi anggota jemaat pun bisa melaksanakannya. Oleh sebab itu, sifat sakramental dari setiap upacara gerejawi ditiadakan. Beberapa ketetapan yang patut dilaksanakan oleh aliran ini menurut Aritonang (2000:121-122) yaitu: Baptisan, komuni (perjamuan kudus), pembasuhan kaki, kecupan suci, pengurapan (peminyakan), kerudung (bagi wanita) pada kebaktian, perkawinan, dan penumpangan tangan pada penahbisan.
Akibat doktrin yang berbeda maka mereka dicap sebagai aliran sesat. Pemerintah maupun masyarakat yang tidak sepaham akan menindas dan mengusir mereka di wilayah tersebut. Di balik penderitaan yang mereka alami, justru semakin bersemangat untuk memberitakan ajarannya sambil mengungsi ke beberapa negara selain Belanda yaitu Rusia, Amerika, Canada, Mexico, Indonesia, dan beberapa negara yang memungkinkan untuk menerimanya.
Gereja ini hampir semuanya tidak memakai nama Mennonit. Awalnya mereka disebut sebagai kelompok “Taufgesinnt” yang berarti kelompok orang yang melaksanakan pembaptisan dewasa secara percik. Aliran ini di Belanda memakai nama Doopsgezinden, Ethiopia dikenal dengan Meserete Kristos yang berarti dasar yang diletakkan Kristus, dan di Indonesia memakai nama gereja sesuai daerah dan budaya dimana berkembangnya aliran tersebut.
Perkembangannya di Indonesia dimulai dari desa Cumbring Jepara. Pernah ada di Sumatera Barat dan Utara pada tahun 1830, namun mengalami kemunduran karena berada di bawah jajahan kolonial Hindia-Belanda pada waktu itu. Pada tanggal 16 Maret 1854 dilaksanakan pembaptisan pertama terhadap 5 orang di desa Cumbring oleh Zendeling Pieter Jansz. Beberapa tahun kemudian aliran ini berkembang secara signifikan dengan membentuk tiga sinode besar, yaitu: Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), dan Jemaat Kristen Indonesia (JKI).
E.    Aliran Baptis
Aliran Baptis muncul sekitar awal abad ke-16 setelah reformasi Luther. Kehadiran aliran ini erat hubungannya dengan gerakan Anabaptis yaitu aliran yang membaptis ulang orang Kristen secara selam kendati sudah pernah dibaptis secara percik pada saat masih bayi ataupun dewasa. Pada waktu itu Smyth dan rekan-rekannya ditindas oleh pemerintah Inggris karena dianggap sebagai pembawa aliran sesat dalam gereja dan Negara. Mereka mengungsi ke Belanda dan bergabung dengan aliran Mennonit pada tahun 1607. Jadi, aliran ini dipelopori oleh John Smyth yang berasal dari gereja Anglican di Inggris.
Kemudian pada tahun 1609 Smyth dan rekan-rekannya kembali menerima baptisan selam (baptisan ulang) di Belanda.  Peristiwa pembaptisan ulang inilah menjadi cikal bakal terbentuknya jemaat Baptis Inggris yang pertama di Amsterdam. Awalnya mereka berkomitmen tinggal di Belanda, tetapi beberapa penduduk di sana menolaknya. Pada akhirnya mereka kembali ke Inggris mendirikan aliran Baptis pertama pada tahun 1912.
Perkembangan aliran Baptis di luar negeri terjadi tahun 1640 pada masa pemerintahan Oliver Cromwell. Keberadaannya di Indonesia melalui pelayanan dan penginjilan Jabez Carey di Maluku pada tahun 1814. Penginjilan Carey hanya sampai tahun 1818 yang kemudian melanjutkan penginjilan ke India. Kehadirannya di Maluku tidak diterima oleh kalangan orang yang sudah menjadi Kristen karena berusaha mempraktekan baptisan selam dewasa. Mereka hanya menerima konsep teologi yang diterapkan oleh Joseph Kam utusan NZG yang mempraktekkan baptisan anak secara percik sesuai dengan paham Calvinis.
Perkembangan aliran Baptis di Indonesia kembali dimulai melalui penginjil Richard Burton dan secara khusus Nathaniel Ward yang bertahan di Padang-Sumatera Barat sampai meninggal pada tahun 1850. Sejak itu beberapa misionaris gereja Baptis dari luar negeri maupun orang pribumi tetap melanjutkan misinya untuk memberitakan Injil sampai saat ini. Terbukti sejumlah organisasi gereja Baptis telah berkembang dalam beberapa denominasi, antara lain: Persekutuan Gereja-gereja Baptis Irian Jaya (PGBIJ), Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI), Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI), Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI), Gereja Baptis Independent di Indonesia (GBII), Sinode Gereja Kristen Baptist Jakarta (SGKBJ), dan masih banyak lagi denominasi gereja-gereja Baptis yang masih terus berkembang.
Beberapa pokok ajaran aliran gereja ini sehingga memiliki perbedaan dengan aliran atau denominasi lain, yaitu:
1.   Alkitab adalah Firman Allah yang dijadikan sumber hidup orang Kristen, dasar ajaran, dan pedoman berperilaku. Mereka memiliki kebebasan menafsirkan Alkitab secara fundamentalis, liberal, maupun modernis. Perbedaan dalam penafsiran sering menjadi kontroversial yang berakhir pada pertikaian dan perpecahan dalam denominasi gereja baptis itu sendiri.
2.   Gereja adalah persekutuan orang-orang yang sudah dibersihkan dosanya melalui baptisan selam dewasa dan diselamatkan oleh pengorbanan Yesus Kristus.
3.   Sakramen terdiri atas Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus. Perjamuan kudus adalah upacara simbolik untuk mengenang pengorbanan dan kematian Yesus Kristus. Menyelenggarakan baptisan ulang terhadap orang yang sudah dibaptis percik pada usia bayi atau dewasa.
4.   Pemerintahan gereja bersifat otonom dan demokratis. Gereja tidak boleh tunduk di bawah perintah badan atau organisasi mana pun, tetapi hanya tunduk kepada Yesus Kristus kepala Gereja.
5.   Gereja harus terpisah dari negara dan negara juga menjamin kebebasan dalam beragama.
Pada umumnya aliran Baptis kurang bergaul dengan denominasi gereja lain karena menganggap doktrin, pokok ajaran, serta perbedaan-perbedaan lainnya akan mengganggu misi pelayanan mereka. Mereka cenderung membentuk kelompoknya sendiri. Sikap eksklusif gereja ini terjadi juga di Indonesia. Kondisi inilah yang menunjukkan keberadaan serta perkembangan gereja yang beraliran Baptis di luar negeri tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. 


F.    Aliran Methodist
Aliran Methodist diprakarsai oleh tokoh utamanya yaitu John Wesley dan Charles Wesley di Inggris pada abad ke-18. Keduanya putra seorang pendeta yang aktif di gereja Anglican. Pelayanan mereka mengalami pasang surut. Namun John Wesley tetap bersemangat karena dipengaruhi oleh gerakan Pietis (kesalehan) yang sedang berkembang pada waktu itu. Awalnya aliran ini terbentuk lewat persekutuan-persekutuan kecil (Camp Meeting) tetapi bukan dalam bentuk aliran Methodist.
Menurut Haskins (1992:72) bahwa aliran Methodist sudah mulai terasa keberadaannya sejak tahun 1787. Kendati demikian, perkembanganya secara terbuka baru terjadi setelah John Wesley meninggal dunia pada tahun 1791. Aliran ini disebut Methodist setelah seluruh pengikut Wesley memisahkan diri dari Gereja Anglican sekitar tahun 1795. Keberadaannya di Inggris menandai bangkitnya semangat kebangunan rohani (Revival) di seluruh dunia. Tentunya perkembangan ini bukan saja terjadi di Amerika tetapi di beberapa negara lainnya seperti Indonesia.
Perkembangannya aliran ini di Indonesia berkat pelayanan misionaris J.R. Denyes dari Singapura datang ke Bogor tahun 1905. Strategi pelayanannya dimulai dengan membuka kursus bahasa Inggris dan sekolah (Anglo-Chinese School) sehingga beberapa orang mulai bergabung. Kemudian George F. Pykett seorang misionaris Metodist dari Malaysia yang mengutus Salomon Pakhianatan ke Sumatera Timur tahun 1908 khususnya daerah sungai Asahan. Ketika berada di sana sebagian besar annggota jemaatnya berasal dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Selain itu, beberapa orang Tionghoa dari Malaysia dan Singapura pergi ke Kalimantan sekitar tahun 1906 untuk menyebarkan aliran ini.
Daerah Sumatera merupakan yang paling berhasil dalam misi ini. Sementara daerah lain masih mengalami kemunduran yang disebabkan oleh faktor keuangan dan kurangnya simpati masyarakat karena telah menjadi orang Kristen sudah cukup lama. Kendati demikian, adapun keberhasilan pelayanan yang boleh diraih yaitu berdirinya beberapa Gereja Methodis Indonesia (GMI), Universitas Methodist Indonesia di Medan, rumah sakit Methodist, dan Institut Theologia Alkitabiah di Sibolangit-Sumatera Utara.
Beberapa pokok ajarannya yang paling menonjol dengan berpedoman pada tulisan-tulisan John Wesley, yaitu:
a.         Kelahiran kembali adalah dasar untuk menjadi orang Kristen. Kelahiran kembali dikerjakan oleh Allah tetapi manusia juga harus memiliki inisiatif untuk bertobat dari dosa-dosanya serta bertekad untuk hidup kudus.
b.        Kesaksian Roh Kudus memberikan kepastian bahwa setiap pribadi orang Kristen adalah anak-anak Allah yang telah menerima keselamatan kekal melalui Yesus Kristus.
c.         Keselamatan dan penebusan dari Yesus Kristus berlaku bagi semua orang yang mau menerimanya.
d.        Orang yang sudah selamat kemungkinan akan kehilangan kasih karunia Allah sebagai akibat dari ketidaktaatannya kepada Allah.
e.         Kesucian hidup orang Kristen merupakan tujuan akhir yang harus dicapai sebelum Kristus datang kembali.
f.         Penginjilan merupakan tugas utama dalam mengobarkan kebangunan rohani dan semangat menginjili semua orang.
g.        Orang Kristen dapat bersumpah di depan umum asalkan sesuai dengan iman, kasih, dan kebenaran.

G.    Aliran Pentakosta
Aliran Pentakosta pertama sekali berkembang di Eropa dan Amerika Utara pada tahun 1906. Aliran ini dipelopori oleh Ch. F. Parham pada tahun 1900 yang memaksakan diri keluar dari aliran Methodis serta ingin membentuk organisasi gereja baru pada saat itu. Dasar pemahamannya untuk membentuk aliran gereja baru yang bertitik tolak pada eskatologi, baptisan Roh Kudus, dan karunia berbahasa lidah. Berdasarkan pengakuan mereka bahwa gereja Pentakosta adalah gereja yang penuh Roh Kudus. Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang artinya “hari ke lima puluh”.
Aliran ini masuk ke Indonesia dengan nama Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang dahulu bernama Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie. Selain GPdI ada juga Jemaat Pantekosta di Indonesia (JPI). Aliran ini diawali oleh dua orang misionaris dari Amerika keturunan Belanda, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Pdt. Groesbeek pada tahun 1921. Mereka diutus oleh Pdt. W.H. Offiler dari Bethel Pentacostal Temple Inc, Washington, Amerika Serikat.
Kedua misionaris di atas pertama sekali tiba di Jakarta pada bulan Maret 1921 dengan menumpang kapal laut KM Suwa Maru bersama keluarganya. Selanjutnya mereka langsung menuju pulau Bali untuk misi pemberitaan Injil. Kehadiran mereka di Bali dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu, sehingga pada bulan Desember 1922 mereka kembali ke pulau Jawa. Di pulau Jawalah secara khusus Surabaya, Temanggung, dan Cepu aliran ini berkembang secara luar biasa.
Dalam analisis Aritonang dalam bukunya Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja telah menguraikan ajaran gereja ini secara mendalam. Beberapa pokok pemahaman yang paling mendasar sebagaimana penulis diuraikan berikut ini:
1.     Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan Allah kepada manusia sehingga tidak mengandung kesalahan dan dapat menjadi tata tertib bagi perilaku manusia.
2.     Allah yang benar dan hidup dinyatakan dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
3.     Keselamatan adalah kasih karunia Allah yang ditawarkan kepada manusia melalui penyesalan dan pengampunan dosa kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Manusia diselamatkan melalui permandian kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus yang dapat dibuktikan secara batiniah dan lahiriah. 
4.     Baptisan terdiri atas dua jenis, yaitu baptisan air dan baptisan Roh. Baptisan air yaitu lambang kematian dan penguburan dosa manusia dengan cara diselamkan. Baptisan Roh yaitu baptisan yang dijanjikan oleh Bapa sesuai dengan perintah Tuhan Yesus. Setiap orang yang menerimanya beroleh kuasa untuk hidup dan melayani dengan karunia-karunianya masing-masing.
5.     Berbahasa lidah (glossolalia) yaitu kemampuan yang diberikan Allah kepada para rasul yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul 2:4 dan 1 Korintus 12:4-10, 28.
6.     Perjamuan Kudus yaitu perjamuan yang terdiri dari roti dan anggur, sebagai lambang keikutsertaan di dalam pengorbanan Yesus Kristus serta mengingat nubuat kedatangan-Nya yang kedua kali.
7.     Kesucian hidup, yaitu setiap manusia dituntut untuk hidup suci dan taat Firman Allah sehingga pada akhirnya bisa melihat Allah.
8.     Penyembuhan ilahi, yaitu karunia Roh yang diterima oleh seseorang sehingga sembuh atau mampu menyembuhkan orang lain yang percaya kepada Yesus atas segala penyakit tanpa bantuan ilmu kedokteran. 
9.     Akhir zaman, yaitu sebagai penganut milenarisme meyakini bahwa Yesus Kristus akan datang kembali dan memerintah dalam kerajaan seribu tahun di dunia ini dan kembali berdirinya negara Israel di Yerusalem. Adanya langit dan bumi baru yang dinikmati oleh orang yang sudah selamat.
10. Gereja, yaitu tubuh Kristus di mana Allah berdiam melalui Roh-Nya. 
11. Ibadah dan upacara gerejawi, yaitu tata ibadahnya tidak baku dan tidak ditetapkan nats atau tema khotbah karena dianggap menghambat pekerjaan Roh Kudus, sehingga khotbah berlangsung secara spontan. Adanya kesaksian pribadi di altar, sehingga bersedia untuk menjadi pelayanan di gereja tersebut.
Berdasarkan pemahaman di atas menunjukkan bahwa aliran pentakosta memiliki pandangan terhadap dunia yang transrasional. Meskipun mereka sangat memperhatikan ortodoksi yaitu keyakinan yang benar, tetapi mereka juga menekankan ortopati yaitu perasaan yang benar, dan ortopraksis yaitu tindakan yang benar. Untuk menemukan keeksistensi aliran ini sangat mudah mengingat setiap denominasi gerejanya memakai nama Pentakosta. Gereja ini bersifat otonom di mana pendeta berhak mengatur dan memegang kekuasaan tertinggi. 
H.    Aliran Kharismatik
Pada dasarnya aliran Kharismatik memiliki ciri khas yang hampir sama dengan aliran Pentakosta. Secara khusus dalam hal karunia Roh seperti bahasa lidah, nubuat, dan lain-lain. Kharismatik adalah sebuah istilah yang dipakai untuk mendeskripsikan dirinya sebagai gereja yang percaya pada manifestasi Roh Kudus. Kata karismatik berasal dari sebuah kata Yunani charis yang berarti kasih karunia. Anggotanya sebagian besar dari denominasi gereja Katolik, gereja ortodoks, dan gereja Protestan yang telah memisahkan diri dari gereja induknya.
Memang sangat sulit menentukan kapan dan di mana tepatnya aliran ini mulai muncul. Akan tetapi, Dennis Bennett seorang pendeta dari Gereja Episkopal St. Markus di kota Van Nuys, Los Angeles Amerika Serikat disebut sebagai pionir dari gerakan ini. Sekitar tahun 1960 dia mengumumkan kepada jemaatnya telah menerima pencurahan Roh Kudus. Setelah itu dia dipecat dan pindah melayani di Vancouver dalam lokakarya serta beberapa seminar mengenai karya Roh Kudus.
Dengan semangat yang berkobar-kobar puluhan ribu anggota gereja Anglikan di seluruh dunia terbius dan terpengaruh pada ajaran Bennett. Secara langsung maupun tidak langsung banyak orang yang menjadi pengikutnya. Sebagian orang yang tidak setuju atas ajarannya keluar dengan membentuk aliran gereja baru lagi atau bergabung kembali ke gerejanya yang lama. Perpecahan dalam gereja pun tak terhindarkan.
Pelayanan Bennet yang berorientasi pada baptisan Roh dan bahasa lidah bagaikan sebuah “iklan” yang mempromosikan doktrin dan ideologi baru dalam gereja pada saat itu. Pada tataran konsep berpikir seperti ini baptisan Roh dan bahasa roh menjadi magnet untuk mengikat para pengikutnya. Mereka harus memiliki karunia-karunia berbahasa roh, bernubuat, dan sebagainya. Orang yang tidak memiliki salah satu karunia itu dianggap belum mengalami kuasa Tuhan dan bukan orang Kristen sejati tentunya.

I.      Aliran Injili
Gereja yang beraliran Evangelical (Injili) merupakan produk dari negara Amerika dan Eropa melalui pelayanan dari beberapa misionaris. Sejak tahun 1930-an para pemimpin aliran ini lebih suka menggunakan istilah Injili daripada Protestan. Penggunaan istilah Injili tentu tidak terlepas dari pengaruh European Evangelical Alliance yang sudah terbentuk di Inggris sejak tahun 1842. Memang perkembangannya baru terasa sekitar tahun 1950 yang meliputi Amerika, Jerman, Belanda, dan kemudian Indonesia.
Keberadaan aliran ini di Indonesia ditandai dengan berdirinya Institut Injili Indonesia (I-3) di Malang pada tahun 1959 yang didukung oleh gerakan Injili dari Jerman. Kemudian Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil di Indonesia (YPPII) yang didirikan pada tahun 1961 dan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di kota Malang. Lembaga penginjilan lain yang termasuk dalam gerakan Injili seperti Christian and Missionary Alliance (CMA atau CAMA) yang menganut gerakan kesucian.
Salah satu tokoh utama CMA atau CAMA yang pernah tinggal di Indonesia yaitu R.A. Jaffray (1873-1945). Hasil pelayanannya telah mendirikan sekolah teologi dan sejumlah gereja yang masuk dalam rumpun Injili seperti Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Selain GKII masih banyak lagi gereja yang beraliran Injili dengan memakai nama lain bahkan memakai istilah Injili Reformed. Sebagian besar gereja Injili ini sudah banyak berinovasi sesuai konteks jamannya serta mengadopsi paham dari berbagai aliran dan denominasi gereja lain yang ada di sekitarnya.
J.     Aliran Bala Keselamatan
Bala Keselamatan dalam bahasa Inggris disebut Salvation Army. Pada awal berdirinya aliran ini bukan sebuah organisasi gereja melainkan hanya berupa organisasi sosial. Pelayanan sosialnya yang terkenal yaitu membuka rumah sakit dan panti-panti asuhan. William Booth seorang pendeta dari aliran Metodist sebagai pelopor utamanya. Dia lahir di Nottingham-Inggris pada tahun 1829 dalam sebuah keluarga kontraktor yang jatuh bangkrut. Melalui pengalaman inilah dia sadar bahwa kehidupan orang miskin seringkali mengalami penghinaan dari orang-orang kaya karena memiliki nilai ekonomi mapan.
Dalam mengatasi berbagai keterpurukan nilai sosial dan kemiskinan inilah, maka pada tahun 1865 dia berkhotbah kepada sekumpulan anak jalanan dan beberapa pub di London. Kemudian tahun 1878 memberi nama gerakan ini sebagai “Misi Kristen”, yang selanjutnya diganti menjadi “Bala Keselamatan”. Seiring bertambahnya penganut paham ini, kemudian misi ini berubah menjadi Gereja Bala Keselamatan (GBK). Kehadiran GBK menambah daftar panjang pertambahan aliran gereja baru di dunia termasuk di Indonesia.
Aliran ini mulai berkembang di Pulau Jawa pada tahun 1894 oleh Staf Kapten J.G. Brouwer dan Letnan Muda A. van Emmerik berkebangsaan Belanda. Pelayanan mereka mulai bergerak di bidang pelayanan sosial seperti rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah. Pelayanan sosial ini berubah dan berkembang sehingga mendirikan beberapa gereja di seluruh kota-kota besar di Indonesia seperti Jawa Tengah, Semarang, Bandung, Jakarta, Bali, Sulawesi Tengah, Sumatera, Maluku, NTT, dan sebagainya.
Aliran GBK memiliki prinsip hidup sebagai pejuang kebenaran Allah. Dalam struktur kepangkatannya dimulai dari Jamaat disebut prajurit; Majelis disebut sersan; pendeta disebut kapten, mayor, letnan kolonel, dan lain-lain. Pemimpin tertinggi di dunia berpangkat jenderal yaitu Linda`Bond berkebangsaan Kanada yang berkedudukan di London, Inggris. Sedangkan pemimpin tertingginya di Indonesia berpangkat komisaris. Untuk mendapatkan pangkat kapten ke mayor harus melakukan pelayanan selama 10 tahun. Pangkat mayor sampai jenderal adalah pangkat yang diperoleh berdasarkan prestasi atau anugerah Tuhan bagi orang tersebut.
Di balik simbol kemiliteran yang dikenakan, ada beberapa pokok penting yang selalu ditekankan dalam pelayanannya. Pertama, pertobatan adalah sesuatu yang mutlak dalam kehidupan orang Kristen. Kedua, setelah pertobatan orang cenderung tetap berdosa, tetapi Allah menawarkan kesempurnaan dan anugerah kepada umat-Nya, sehingga terjalin kasih antara Allah dengan manusia dan manusia dengan Allah. Oleh sebab itu, praktek pelayanan gereja ini selalu menciptakan suasana Kristen yang tidak terlalu “menggereja”. Liturginya tidak terlalu kaku sehingga terbuka bagi orang-orang miskin dan orang yang sedang terpuruk dalam berbagai masalahnya.
Mereka tidak menyelenggarakan sakramen perjamuan kudus dan baptisan kudus. Sakramen perjamuan kudus tidak dilakukan dengan alasan untuk menghindari anggota jemaatnya minum alkohol. Sedangkan sakramen baptisan kudus dilambangkan dengan pentahbisan yang disertai janji iman yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan dan jemaatnya. Segala aktivitas pelayanan gereja dipandang suci sehingga hanya Allah yang mampu melakukannya. Jadi, GBK hanya mengakui baptisan kudus yang dilakukan oleh Roh Kudus atau baptisan Roh Kudus.  
K.    Aliran Adventis
Aliran Adventis yang mudah kita kenal yaitu Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK). Ciri khas ibadah gereja ini sangat mudah kita kenal yaitu melaksanakan kegiatan ibadah raya setiap hari Sabtu. Sistem peribadatan mereka berbeda dengan gereja Kristen pada umumnya. Hari Sabtu merupakan hari Sabath (perhentian) yang ditetapkan oleh Tuhan sesuai dengan kebenaran Alkitab.
Aliran gereja ini berkembang pesat di bawah kepemimpinan Ellen Gould Harmon White (Ellen G. White) di Portland sekitar 22 Oktober 1844. Memang ada beberapa tokoh Advent sebelumnya seperti William Miller (1782-1849), Hiram Edson (1806-1882), dan Joseph Bates (1792-1872). Kendati mereka sudah ada sebelum Ellen, tetapi pengaruh mereka sangat kecil terhadap perkembangan aliran ini. Keempat tokoh ini menegaskan bahwa akhir zaman merupakan kedatangan Yesus Kristus kedua kali. Mereka berani menentukan tempat dan waktu kedatangan Yesus Kristus berdasarkan perhitungan yang mereka lakukan. Perlu diketahui bahwa semua ramalan atau penglihatan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun belum pernah terjadi sampai detik ini.
Perkembangan aliran ini di Indonesia mulai terasa sejak 1 Januari 1900 melalui kehadiran Ralph Waldo Munson di Padang-Sumatera Barat. Munson merupakan seorang misionaris Metodis dari Singapura. Ketika berobat ke rumah sakit Adventis di Amerika, dia mengalami kesembuhan sehingga memilih menjadi anggota Adventis. Pengalaman mujizat kesembuhan itu menjadi sarana dalam pelayanannya.
Kendati mujizat itu sering dijadikan sarana dalam pelayananya, tetapi di Padang kurang berhasil karena mengalami hambatan dari aliran gereja yang sudah ada. Kemudian pindah ke Medan, Sumatera Utara bersama misionaris dari Australia. Dia pindah lagi ke pulau Jawa yang pada akhirnya kembali ke Amerika. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa misionaris dari Australia, Belanda, Amerika, dan Indonesia seperti M.E. Direja Samuel Rantung, J.J. Merukh, dan sebagainya. Mereka terus berjuang menyebarluaskan ajaran Adventis ke seluruh wilayah Indonesia sampai sekarang.
Pokok ajaran yang mudah dikenal pada aliran ini ditunjukkan melalui etika kehidupan. Pada setiap lingkungan masyarakat yang mereka tempati harus menunjukkan sikap integritas sebagai warga gereja yang baik dan mengusahakan kesejahteraan semua orang. Setiap jemaat dilarang merusak tubuhnya, seperti membuat tato, melubangi daun telinga pada laki-laki, dan sebagainya. Peraturan ini didasarkan pada ucapan rasul Paulus terdapat pada 1 Korintus 6:19 yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
Kutipan ayat di atas menunjukkan bahwa aliran Advent menekankan tentang kekudusan hidup sebagai orang yang telah menerima kuasa Roh Kudus. Seluruh anggota tubuh yang diciptakan oleh Allah harus dijaga. Demi menjaga kekudusan tubuhnya maka mewajibkan anggotanya untuk vegetarianisme. Kepatuhan terhadap hukum halal-haram berdasarkan pada kitab Imamat. Setiap warga jemaat tidak diperbolehkan makan daging babi, kerang, dan makanan lain yang digolongkan sebagai “makanan haram”. Gereja mencegah anggotanya dari penggunaan alkohol, tembakau, obat terlarang, kopi, teh, minuman yang mengandung kafein, dan lain sebagainya.
L.     Aliran Saksi Jehova
Tokoh utama berdirinya aliran Saksi Jehova yaitu Charles Taze Russell yang lahir pada tahun 1852. Awalnya dia merupakan anggota jemaat dari gereja Presbyterian Skotland-Irlandia dan kemudian bergabung dengan aliran Adventis. Setelah itu, dia menjadi pemimpin tertinggi (presiden) pertama aliran Saksi Jehova tahun 1879 sampai dia meninggal tahun 1916. Selanjutnya presiden yang lain seperti Joseph F. Rutherford (1917-1942) berasal dari Gereja Baptis-Morgan, Nathan R. Knorr (1942-1977) berasal dari Gereja Reformed Belanda, Frederick W. Franz (1977-1992), dan Milton G. Henschel. Semua pemimpinnya berpendidikan tinggi yang berasal dari berbagai universitas ternama di negaranya masing-masing.
Aliran ini diorganisir secara internasional yang lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen. Komunitas mereka juga dikenal dengan sebutan “Menara Pengawal” atau “Persekutuan Saksi Jehova”. Menurut Aritonang (2000:317) bahwa kemunculan aliran ini bermula dari aliran Adventis di mana pokok-pokok ajarannya pun hampir sama dengan ajaran Adventis. Kantor pusat mereka berada di Brooklyn, New York, Amerika Serikat.
Aliran Saksi Jehova tidak menyebut dirinya sebagai gereja tetapi hanya berupa persekutuan, walaupun misinya sama dengan aliran gereja pada umumnya. Mereka selalu mengunjungi rumah masyarakat Kristen dan non-Kristen sebagai strategi dalam menyebarkan ajarannya. Yang paling sering dan mudah mereka jangkau adalah orang yang sudah beragama Kristen. Mereka suka berdiskusi dan bahkan selalu berdebat seputar kekristenan. Mereka tidak mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan juru selamat manusia.
Saksi Yehova merupakan aliran yang baru diakui di Indonesia. Semula keberadaan mereka dilarang oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976, karena paham dan kegiatannya melanggar hukum seperti menolak menghormati bendera merah putih, menolak ikut berpolitik, serta menimbulkan keresahan di masyarakat karena mengujungi rumah-rumah orang yang sudah beragama untuk direkrut menjadi anggotanya.
Walaupun sudah dilarang berkali-kali untuk menyebarkan ajarannya, namun mereka tetap semangat untuk menyebarluaskannya. Bahkan beberapa kali diusir ketika mereka masuk ke rumah masyarakat, tetapi tetap sabar dan terus melanjutkan pelayanannya. Dengan kegigihan dan relasi kekuasaan yang dimiliki maka pada tanggal 1 Juni 2001 SK di atas dicabut dengan alasan bertentangan dengan Pasal 29 UUD 1945, Tap MPR Nomor XVII/1998 tentang HAM, dan Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998. Dengan demikian, saksi Yehova secara resmi diakui sebagai aliran dalam agama Kristen yang melaksanakan baptisan dewasa secara selam.
Untuk dapat mengetahui perbedaan Saksi Jehova dengan aliran gereja lain di Indonesia, maka beberapa pokok ajarannya yang kontroversial, antara lain:
1.     Allah (Jehova), yaitu Allah sebagai pencipta, Yesus Kristus diciptakan oleh Allah dan menjadi pelayan utama untuk menebus dosa manusia, dan Roh Kudus bukan Allah melainkan kuasa/pengaruh dari Allah.
2.     Alkitab versi terbaru banyak mengalami kesalahan, sehingga menerbitkan Alkitab versi mereka sendiri bernama New World Translation of the Scriptures tahun 1961.  
3.     Sejarah dunia ini terbagi atas: pertama, dunia masa lalu dimulai sebelum kejatuhan Adam sampai peristiwa air bah; kedua, dunia masa kini dimulai sejak pemerintahan Nebukadnezar tahun 607 SM sampai perang Harmagedon; dan ketiga, dunia masa depan dimulai sejak berdirinya Kerajaan Seribu Tahun sampai dengan kehidupan kekal di sorga.
4.     Penebusan dilakukan oleh Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.  Yesus Kristus bukan Allah, tetapi pelayan Allah melalui pengurapan Roh Kudus.
5.     Kedatangan Kristus kedua kali akan diawali oleh satu peristiwa penting yaitu perang Harmagedon di bumi dan terpilihnya penghuni sorga sebanyak 144.000 orang.
6.     Kebangkitan tidak berlaku bagi manusia yang jahat melainkan penghakiman untuk selama-lamanya. Kebangkitan hanya terjadi bagi orang-orang yang bersikap benar selama hidupnya.
7.     Baptisan dan Perjamuan bukan sakramen. Baptisan selam dilaksanakan di sungai, danau, laut, atau kolam pada usia dewasa. Perjamuan bertujuan untuk mengenang kematian Yesus Kristus dan dilaksanakan sekali setahun setiap hari Jum’at Agung.
8.     Peribadatan dilaksanakan di Balai Pertemuan tetapi tidak disebutkan gereja. Setiap minggu diselenggarakan empat pertemuan, yaitu: bicara di depan umum (Publik Talk), Studi The Watchtower, Sekolah Pelayanan Kerajaan, dan Pertemuan Ibadah.
9.     Disiplin organisasi berlaku bagi semua anggota Saksi Jehova. Setiap orang yang melanggar disiplin akan diberi sanksi dan dikeluarkan dari persekutuan/keanggotaan Saksi Jehova.
10. Larangan dan pantangan merupakan bentuk disiplin yang melarang umatnya berjudi, merokok, mabuk-mabukan, dilarang memperingati hari raya tradisional dan popular seperti Natal dan Paskah, tidak ikut pemilu, tidak boleh menghormati bendera, tidak boleh menjadi tentara, dan sebagainya.

M.   Aliran Mormon
Aliran Mormon atau sering disebut The Church of Jesus Christ of the Latter-Day Saints didirikan oleh Joseph Smith, Jr di Salt Lake City-Utah, New York pada tanggal 6 April 1830. Selain Smith, tokoh utama lainnya yakni Oliver Cowdery, David Whitmer, dan Martin Harris. Seiring perjalanan waktu perkembangan aliran ini tidak saja terjadi di Amerika, tetapi juga berkembang di Indonesia. Aliran ini masuk ke Indonesia sejak 5 Januari 1970 melalui 6 misionarisnya serta melaksanakan baptisan pertama tanggal 29 Maret 1970 di Jakarta.
Strategi penginjilan mereka di Indonesia dengan cara memberikan kursus bahasa Inggris dengan biaya murah. Ternyata strategi ini cukup ampuh sehingga berhasil membaptis para petobat baru mulai sejak berdirinya sampai tahun 1977 berjumlah 1200 orang (Aritonang, 2000:344). Pada bulan Agustus 1978 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 70 dan 77 untuk membatasi kegiatan mereka. Kemudian pada tanggal 24 Juli 1988 meresmikan kembali markas barunya dan membangun gedung gereja di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan. Kegiatan aliran ini sering mengalami hambatan hingga saat ini.
Beberapa pokok ajarannya yang paling popular hingga saat ini, yaitu:
1.     Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus terdiri dari tiga pribadi  yang berbeda natur dan fungsinya. Mereka tidak mengakui keberadaan Allah Tritunggal sebagaimana orang Kristen pada awalnya.
2.     Manusia adalah berdosa dan ditebus oleh Yesus Kristus, tetapi manusia bisa menjadi Allah.
3.     Keselamatan diperoleh melalui penebusan Yesus Kristus dengan dua cara: pertama, keselamatan umum berlaku bagi setiap orang melalui kematian dan kebangkitan Kristus; kedua, keselamatan pribadi berlaku bagi setiap orang melalui Kristus tetapi harus ada usaha manusia melalui etika, ketaatan pada hukum, baptisan, ikut serta pada upacara bait suci, dan lain-lain.
4.     Kitab Suci terdiri atas dua bagian yaitu: Alkitab dan Kitab Suci Mormon.
5.     Gereja dipimpin oleh imam berdasarkan kerangka imam Harun dan Melkisedek. Badan organisasinya disebut General Authorities terdiri atas jabatan presiden, penasehat, dan dewan-dewan lainnya. Gereja ini juga disebut sebagai Gereja Perjanjian Baru.
6.     Upacara di Bait Suci antara lain: (a) Baptisan orang mati sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan; (b) Penganugerahan (Endowment) yaitu pria dan wanita dipisahkan dalam suatu upacara mandi istimewa, sehingga semua organ-organ tubuh diurapi dan didoakan agar berfungsi dengan baik, termasuk alat kelamin; dan (c) Perkawinan celestial yaitu seseorang harus menikah di Bait Suci dalam suatu upacara khusus agar perkawinannya berlangsung hingga kekekalan.
Berdasarkan pokok ajaran ini menunjukkan perbedaannya dengan aliran atau denominasi gereja lain. Mereka sering menyerang dan mendakwa semua gereja lain sebagai sesat, murtad, munafik, dan sebagainya sambil mengutip sejumlah ayat Alkitab untuk membenarkan argumentasinya (Aritonang, 2000:352). Sikap saling mengklaim aliran atau denominasinya benar sudah berlangsung lama dalam sejarah kekristenan sampai hari ini. Biarlah Tuhan yang menjadi penilai dan hakim atas semua sikap yang kita lakukan selama di dunia ini.


N.    Aliran Christian Science
Menurut Stephen Gottschalk (1987:442) bahwa Christian Science adalah suatu gerakan keagamaan dalam komunitas Kristen yang menekankan pada penyembuhan kristiani sebagai bukti keunggulan atas kekuatan fisik. Biasanya aliran ini dikenal dengan nama Gereja Kristus Ahli Ilmu Pengetahuan (Church of Christ Scientist) yang berpusat di Boston, Amerika Serikat. Pendiri awalnya yaitu Mary Morse Baker tahun 1879 bersama 26 orang pengikutnya di Boston. Mary lahir tanggal 16 Juli 1821 di New Hampshire dan meninggal dunia pada tanggal 3 Desember 1910. Dia menjadi pendeta pertama di gereja ini, walaupun dia sebenarnya sebagai anggota gereja Congregasional yang beraliran Calvinis di Tilton.
Selama hidupnya Mary menikah sebanyak tiga kali dengan alasan suaminya meninggal dunia dan juga masalah perceraian. Adapun nama suaminya berdasarkan urutan pernikahannya, yaitu: George Washington Glover (meninggal), Daniel Patterson (cerai), dan terakhir pada usianya ke-55 menikah lagi dengan muridnya bernama Asa Gilbert Eddy yang meninggal pada tahun 1882. Selain itu masalah krusial yang sering dialami oleh Mary dari kecil sampai meninggal dunia yaitu sering sakit-sakitan seperti lumpuh, pingsan, histeris, kurang penglihatan, radang gusi kronis, dan kecelakaan karena terpeleset di jalan berlapis es di kota Lynn.
Dalam penderitaan yang cukup lama itu membuat dia menemukan sebuah pemahaman bahwa kesembuhan dapat terjadi bagi seseorang karena faktor ilmu pengetahuan. Kendati Alkitab selalu disebut sebagai pedoman utama ajarannya, namun dalam prakteknya selalu menekankan asas dan peraturan ilmu pengetahuan rohani dan penyembuhan metafisik (Science and Health). Pada akhirnya, dia selalu menafsirkan Alkitab berdasarkan pemahaman yang berorientasi pada ilmu pengetahuan dan penyembuhan metafisik Ilahi yang disebut sebagai Christian Science sampai saat ini.
Beberapa pokok ajarannya yang menjadi perhatian kita semua, antara lain:
1.     Allah bukan saja sebagai Bapa melainkan sebagai Ibu. Yesus bukan Allah tetapi manusia, sehingga kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan-Nya kembali tidak benar. Roh Kudus digambarkan sebagai ilmu pengetahuan Ilahi.
2.     Manusia adalah citra Allah, karena Allah adalah Roh maka manusia adalah roh.
3.     Dosa dan penyakit sebenarnya tidak ada karena Allah adalah baik. Dosa dan penyakit ada karena kekeliruan penglihatan manusia atau menolak kemahakuasaan dan kebaikan Allah.
4.     Keselamatan dan penyembuhan berlaku bagi manusia sejati dengan cara berbuat baik kepada Allah. Penyakit, maut, dan neraka hanya tersedia bagi orang yang berbuat jahat.
5.     Zaman akhir seperti sorga, kedatangan Kristus, neraka, kebangkitan tubuh, penghakiman akhir, langit dan bumi baru semuanya tidak ada.
6.     Ibadah dilaksanakan hari Minggu dalam bentuk liturgi nyanyian, doa, nyanyian tunggal, pembacaan Alkitab, dan khotbah pelajaran hasil karya Mary.
7.     Sakramen baptisan kudus dan perjamuan kudus secara kelihatan (lahiriah) tidak dilaksanakan, tetapi persekutuan dengan Allah dengan sikap diam (rohani) dipahami sebagai baptisan dan perjamuan kudus.
Dengan memperhatikan beberapa pokok ajarannya di atas maka keberadaan aliran ini dapat terdeteksi dengan jelas terutama di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Pematang Siantar, dan beberapa kota lainnya. Memang perkembangannya di wilayah nusantara ini tidak seperti di Amerika, namun dampak yang ditimbulkan sangat mengganggu tatanan kehidupan orang-orang Kristen di Indonesia. Sebab, menurut Verkuyl (1966:148) bahwa Christian Science menyesatkan. Selanjutnya, Hoekema (1969:221) menyatakan aliran ini bukan Kristen dan bukan pula suatu ilmu pengetahuan. Kemudian Aritonang (2000:398) menegaskan bahwa aliran ini tidak bisa disebut gereja Kristen; tetapi suatu kelompok pemujaan (cult) non-Kristen, bahkan aliran sesat.
Pertentangan atas aliran Christian Science sudah lama terdengar, baik bagi kalangan para pemimpin dan anggotanya sendiri maupun masyarakat umum lainnya. Kontroversi atas keberadaan aliran ini pun telah memasuki era jaman ini, yang secara tidak langsung telah merusak seluruh sendi kehidupan manusia di dunia ini. Oleh sebab itu, aliran ini bukan saja sebagai aliran sesat tetapi sebagai malapetaka terjadinya perpecahan gereja pada masa yang akan datang.
O.    Aliran Scientology
Aliran Christian Science dan Scientology sebenarnya sama-sama menekankan kepercayaannya pada kuasa ilmu pengetahuan serta pikiran (mind). Tokoh utamanya adalah Lafayette Ronald Hubbard yang lahir tanggal 13 Maret 1911 di Tilden, Amarika Serikat. Kemudian dia meninggal tanggal 24 Januari 1986 di California. Aliran ini resmi berdiri sebagai Church of Scientology pada 18 Februari 1954 di Amerika (Aritonang, 2000:414). Kemudian berkembang di 75 negara di dunia, antara lain Filipina, Australia, India, Taiwan, Jepang, Indonesia, dan sebagainya.
Setelah Hubbard meninggal maka aliran ini dilanjutkan oleh David Miscavige. Sementara keberadaannya di Indonesia dibawa oleh beberapa orang pribumi dan orang asing yang sudah mengenalnya di luar negeri, secara khusus di Los Angeles sebagai kantor pusatnya. Berbagai strategi dilakukan untuk mencari peminatnya seperti yayasan pelayanan sosial, membentuk perkumpulan, membuat kursus pengembangan kepribadian, perawatan mental, menjual buku Hubbard dan pengikutnya. Kegiatan ini menghasilkan uang dan menjadi sarana untuk menyebarluaskan ajarannya.
Sesungguhnya aliran ini bukanlah gereja, kendati anggotanya kebanyakan berasal dari agama Kristen Katolik dan agama Kristen Protestan. Keberadaannya di Amerika dikenal karena memakai nama organisasi gereja. Alasan utama pemakaian nama gereja sebenarnya untuk menghindari pembayaran pajak kepada pemerintah atas hasil penjualan buku, literatur, dan beberapa kegiatan lain yang menghasilkan uang. Dengan melihat berbagai kegiatannya maka dapat dipastikan bahwa pokok ajarannya hanya seputar ilmu pengetahuan. Ilmu psikologi dan psikoterapi menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia atau pun menyembuhkan seseorang yang sedang mengalami berbagai jenis penyakit.
P.    Aliran Gerakan Zaman Baru
Gerakan Zaman Baru (GZB) atau sering juga disebut New Age Movement (NAM). Aliran ini menekankan pada gerakan eskatologis tentang tujuan akhir dunia ini termasuk manusia di dalamnya. Istilah “Zaman Baru” berarti menunjukkan zaman yang akan datang yang disebut zaman emas, Golden Age, atau zaman Aquarius yang akan segera terwujud. Gagasan ini didukung oleh berbagai perkembangan ilmu pengetahuan modern seperti paham metafisik, filsafat Timur Kuno, Transendentalisme, Spiritualisme, Christian Science, dan sebagainya.
Perkembangan awal aliran ini muncul di kawasan California, Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Tokoh utama paling berpengaruh yaitu Baba Ram Dass atau nama lahirnya Richard Albert yang berdarah Yahudi. Tokoh lainnya yang ambil andil sesuai urutan masanya yaitu Marilyn Ferguson, David Spangler, Judith Skutch, dan Shirley Maclaine. Menurut Winker (1994:184) bahwa tokoh yang paling berpengaruh saat ini adalah Dr. M. Scott Peck dan Matthew Fox.
Semua tokoh di atas mempunyai penekanan khusus terhadap setiap pokok ajarannya masing-masing. Umumnya mereka selalu menekankan ajarannya seputar kehidupan yang akan datang. Untuk mencapai hal itu, maka pendekatan pada kemampuan pengetahuan atau otak manusia yang selalu dikedepankan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui segala gejala yang terjadi di sekitarnya melalui kemampuan daya pikirnya.
Keberadaan aliran ini di Indonesia tentu tidak sesubur aliran gereja lain yang mendapat tempat di hati masyarakat Kristen pada khususnya. Salah satu aliran GZB yang mudah dikenal adalah Gereja Kristus Penginjilan Nusantara (GKPN) di Jakarta. Pergerakan mereka tidak kelihatan karena lebih menekankan pada penyebaran tratat, majalah, lokakarya, seminar, persekutuan, meditasi, dan memakai Alkitab sebagai legalitas ajarannya.
Q.    Aliran-aliran Lainnya
Selain aliran-aliran yang sudah diuraikan di atas, tentu masih banyak aliran gereja yang menyebut dirinya bagian dari kekristenan atau agama Kristen. Beberapa tahun lalu hingga hari ini terdengar selentingan aliran Children of God dan The Satanic Church sudah masuk wilayah Indonesia (Makkelo, 2010:153). Desas-desus ini awalnya terdengar sanyup namun kian lama gejolaknya semakin mengkuatirkan seluruh masyarakat Kristen. Keberadaan mereka pun sulit dilacak karena berbaur dengan masyarakat Kristen, Lebih menyedihkan lagi sebagian anggota jemaat dari beberapa gereja sudah menjadi anggotanya.
Asal-usul berbagai aliran gereja ini secara singkat diuraikan pada tabel di bawah ini.
No
Aliran
Asal Aliran
Tokoh Pendiri
Tahun
1
Lutheran
Gereja Katolik Roma (GKR)
Marthin Luther
1517
2
Calvinis
GKR
Johanes Calvin
1534
3
Anglican
GKR
Raja Henri VIII
1547
4
Mennonit
GKR & Anabaptis
Menno Simons
1537
5
Baptis
Mennonit
John Smyth
1609
7
Methodist
Anglican
John Wesley & Charles Wesley
1787
8
Pentakosta
Methodist
Ch. F. Parham
1900
9
Kharismatik
Episcopal
Dennis Bennett
1960
10
Injili
Berbagai aliran
Billy Graham, dll
1930
11
Bala Keselamatan
Methodist
William Both
1878
12
Adventis
Methodist & Berbagai aliran
Ellen G. White
1844
13
Saksi Jehova
Presbyterian & Adventis
Charles Taze Russel
1879
14
Mormon
Presbyterian & Metodis
Joseph Smith
1830
15
Christian Science
Calvinis
Mary Morse Baker
1879
16
Scientology
Christian Science
Lafayette Ronald Hubbard
1954
17
New Age Movement
Yahudi & Scientology
Richard Albert
1960
Kewaspadaan terhadap aliran baru atau pun aliran yang mengatasnamakan denominasi gereja tertentu seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak. Setiap pemimpin gereja, pemerintah, dan orang Kristen secara keseluruhan harus semakin arif, bijaksana, dan aktif dalam menjaga kesatuan gereja Tuhan. Apabila hal ini dipandang sebelah mata, maka dapat dipastikan aliran baru yang terdengar sanyup selama ini akan terang-benderang. Kehadiran mereka sangat berpotensi merusak segala lini gereja yang sudah ada. Gejala yang ditimbulkan pun menjadi sarana bagi agama lain untuk menyalahkan agama Kristen secara keseluruhan.

Berdasarkan sejarah perjalanan aliran dan denominasi gereja di seluruh dunia pada awalnya dilarang oleh pemerintah. Dengan segala upaya akhirnya mendapatkan tempat di hati masyarakat serta mendapat ijin dari pemerintah. Jika fenomena ini tidak diantisipasi maka kesatuan dan persatuan gereja tidak pernah terwujud. Perpecahan gereja akan terus bertambah dari setiap masanya. Bertambahnya aliran gereja bukan satu-satunya strategi dalam pemberitaan Injil. Justru berbagai konflik, rasa tidak puas terhadap kebijakan para pemimpin gereja, suasana bergereja tidak nyaman, dan motivasi yang salah dari setiap anggota jemaat semakin nyata. Munculnya aliran dan denominasi gereja merupakan akibat dari tidak pernah merasa puas terhadap gereja sebelumnya. 

1 komentar: