Gereja Pecah

Gereja Pecah

Minggu, 30 Agustus 2015

BAB XI KESIMPULAN

Kita patut mengucapkan syukur kepada Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (Allah Tritunggal) atas anugerah dan kesempatan yang diberikan bagi kita, sehingga ada waktu menerima berita sukacita dari Injil sampai hari ini. Dengan pemahaman Injil yang benar maka dapat membuat kita mengerti jalan keselamatan serta sekaligus menjadi alat bagi Dia untuk menyelamatkan orang lain. Hampir semua daerah, suku, bahasa, budaya, dan golongan masyarakat di Indonesia telah mendengar Injil. Dapat dikatakan bahwa pemberitaan Injil telah nyata mengalami pertumbuhannya selama ini.
Tidak semua orang atau bangsa yang dapat memiliki kesempatan untuk menerima Injil. Oleh karena itu, ketika ada kesempatan untuk mendengar Injil yang disampaikan oleh seseorang atau melalui sarana penginjilan lainnya, janganlah keraskan hatimu!? Terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu secara pribadi dengan tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di dalam gereja-Nya.
Seiring pertumbuhan pekabaran Injil tersebut maka berbagai aliran dan denominasi gereja pun mengalami peningkatan. Melihat kondisi ini menunjukkan bahwa gereja-gereja di Indonesia telah mengalami perpecahan (skisma). Fenomena yang sama pula terjadi di gereja-gereja belahan dunia lainnya. Penyebab utama perpecahan gereja ini pada umumnya karena perbedaan doktrin, sistem kepemimpinan, strategi penginjilan, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan semacam inilah yang menimbulkan reaksi dari setiap pemimpin gereja dan beberapa orang Kristen tidak mau menerima keberadaan gereja yang baru atau pun gereja yang sudah ada sebelumnya. Mereka saling mempertahankan keeksistensi gerejanya masing-masing serta merasa dirinya paling benar dan alkitabiah.
Ketika gereja kehilangan jati dirinya sebagai lembaga agama atau lembaga kerohaniaan, maka pada saat itulah kekuasaan, hegemoni, penindasan, kebohongan, dan keserakahan semakin tumbuh subur serta menggerogoti seluruh sendi-sendi kehidupan iman umat Kristen. Segala bentuk kebijakan pemimpin gereja menjadi sumber konflik, baik dalam gereja itu sendiri maupun terhadap aliran dan denominasi gereja lain. Akibatnya situasi ini dapat dipakai oleh pihak tertentu untuk mengadu domba umat Kristen.
Alasan retorika banyaknya aliran dan denominasi gereja sering dijadikan pembenaran dalam konteks pemberitaan Injil. Strategi ini dianggap mampu dan cepat dalam menyampaikan berita sukacita ini. Tentu alasan ini tidak benar jika melihat pertumbuhan umat Kristen sampai saat ini. Dalam kenyataannya umat Kristen belum mengalami peningkatan yang signifikan. Justru saling “mencuri” anggota jemaat dari gereja lain. Metode penginjilan yang dilakukan kadang bertentangan dengan Alkitab serta menyinggung organisasi gereja lain. Konsep berpikir seperti ini sangat tidak relevan dengan harapan dan tujuan Tuhan Yesus dalam melaksanakan tugas Amanat Agung itu sendiri. Dia menghendaki agar pemberitaan Injil dilakukan secara benar tanpa harus ada aliran dan denominasi gereja yang banyak.
Apabila kita semua setuju bahwa gereja selama ini baik di Indonesia maupun di luar negeri telah mengalami perpecahan yang besar. Padahal kita tahu bahwa agama Kristen Protestan masih dalam satu agama, Alkitabnya secara keseluruhan masih sama, Tuhan yang disembah adalah Allah Tritunggal. Marilah kita berjuang bersama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam gereja Tuhan. Jangan lagi kita menambah aliran dan denominasi gereja baru, melainkan berusaha untuk menyatukannya kembali. Setiap kita harus bisa menerima perbedaan yang ada sebagai langkah menuju kebersamaan. Marilah bersama-sama mulai mewujudkan kebersamaan dan kesatuan itu dalam hal yang kecil menuju pada kesempurnaan yang dikehendaki oleh Kristus.
Semua harapan ini tidak akan terwujud apabila pribadi tiap pemimpin gereja telah tertanam sikap egosentris. Mereka tidak pernah mengindahkan Doa Agung Tuhan Yesus yang menghendaki agar gereja-Nya tetap bersatu. Yesus terus berdoa sampai kini supaya gereja-Nya bersatu di dalam kepelbagaian yang ada sebelum kedatangan-Nya kembali. Keesaan gereja Tuhan mutlak harus diwujudkan tanpa meninggalkan misi utama yaitu memberitakan Injil yaitu kabar sukacita kepada semua orang di seluruh dunia.
Marilah kita bertobat kepada Allah atas apa yang kita lakukan selama ini dalam gereja-Nya. Marilah kita memberitakan Injil dengan cara yang benar dan elegan, sehingga hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah. Bukan keegoisan pribadi, apalagi menonjolkan aliran dan denominasi gereja masing-masing. Dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan gereja Kristus di seluruh Indonesia tentu bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, sebagai orang percaya harus memiliki kerinduan dan keyakinan akan kesatuan gereja Tuhan tersebut. Bukan saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Oleh karena itu, beberapa pokok pikiran yang perlu kira renungkan secara bersama-sama, yaitu:
1.   Setiap pemimpin gereja mulai dari Pendeta, Penginjil, Mejelis Jemaat, dan Majelis Sinode harus memahami dan mengerti akan tugas panggilannya di dalam gereja. Setiap unsur ini harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya masing-masing dan bukan karena memiliki kekuasaan semata. Pemahaman yang benar akan tugas panggilan itu menjadikan gereja sebagai lembaga spiritual yang harmonis di dunia ini.
2.   Setiap pemimpin dari aliran dan denominasi gereja harus menjunjung tinggi nilai kesatuan atas gereja-Nya sebagaimana doa Tuhan Yesus. Dengan demikian, setiap pemimpin dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan yang terdapat pada gereja lain.
3.   Setiap Pendeta ataupun Penginjil harus memiliki tingkat pendidikan teologi yang diakui oleh pemerintah sebagai standar awal dalam menggembalakan jemaat menuju keesaan gereja-Nya. Tanpa pengetahuan yang benar maka pemaknaan terhadap isi Alkitab pasti menyimpang. Akibatnya, aliran dan denominasi gereja akan semakin bertambah banyak.
4.   Setiap Pendeta ataupun Penginjil harus selalu mengumandangkan persatuan dan kesatuan gereja Tuhan pada setiap tema pemberitaan Firman Tuhan. Dengan gema persatuan dan kesatuan inilah tidak ada celah bagi golongan atau kelompok masyarakat tertentu yang mempergunakan perpecahan gereja sebagai arena politik dan kekuasaan.
5.   Apabila pemimpin gereja ataupun umat Kristen memiliki talenta khusus dalam pelayanan gereja, maka sebaiknya bergabung dengan gereja yang sudah ada. Sebaliknya, gereja yang sudah ada harus bisa mengakomodir dan menerima kelebihan dari seseorang untuk menunjang pelayanan gereja tersebut.
6.   Setiap pemimpin gereja dan orang Kristen, baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri semakin sadar dan bertanggung jawab untuk menyatukan aliran dan denominasi gereja yang sudah terpecah-pecah. Tuhan Yesus tidak menghendaki gereja-Nya terpecah-pecah dalam berbagai aliran dan denominasi.
7.   Pemerintah terkait serta lembaga PGI harus berperan aktif untuk mencari solusi agar gereja dapat bersatu di seluruh Indonesia. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah membatasi penambahan aliran dan denominasi gereja, sehingga meminimalkan perpecahan dalam agama Kristen pada masa-masa yang akan datang.
Dengan demikian, buku ini diharapkan dapat menjadi sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk memberikan pencerahan serta pengertian tentang betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam gereja-Nya. Sebelum gereja semakin banyak mengalami perpecahan maka kita harus bertanggung jawab untuk menyatukannya kembali. Terwujudnya keesaan dalam gereja-Nya hanya ditujukan untuk pujian, hormat, dan kemuliaan bagi Kristus sampai selama-lamanya. Marilah kita semua bersatu sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Soli Deo Gloria.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar