Gereja Pecah

Gereja Pecah

Minggu, 30 Agustus 2015

BAB IX AMANAT AGUNG

Amanat Agung secara jelas dituliskan oleh rasul Matius sesuai apa yang didengarnya dari Tuhan Yesus pada saat itu. Pesan rohani ini disampaikan oleh Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke sorga. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20; bnd. Markus 16:14-20; Kisah Para Rasul 1:8).
Amanat Agung merupakan kata yang tidak asing dalam kehidupan kekristenan hingga hari ini. Mandat agung ini adalah perintah Kristus secara langsung kepada kesebelas murid-Nya pada waktu itu. Tugas ini pun menjadi bagian penting bagi setiap orang Kristen di segala bangsa yang melintasi segala budaya, etnis, suku, bahasa, dan ras di dunia ini. Menyampaikan berita sukacita kepada semua manusia merupakan prioritas utama bagi orang Kristen dibandingkan tugas-tugas lainnya.
Tugas yang mulia ini seringkali menjadi beban bagi orang Kristen. Mereka berpikir memberitakan Injil hanya tanggung jawab segelintir orang saja. Memberitakan Injil menjadi tugas pemimpin rohani saja seperti pendeta, penginjil, misionaris, dan beberapa orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk terlibat dalam pelayanan ini. Secara jelas tugas memberitakan Injil bukan hanya ditujukan kepada pemimpin rohani semata, tetapi melampaui umur, kedudukan, jenis kelamin, miskin atau kaya. Amanat Agung menjadi tanggung jawab seluruh orang Kristen di seluruh dunia termasuk orang Kristen di Indonesia. Untuk lebih mengerti makna tugas mulia ini maka beberapa pokok penting diuraikan di bawah ini.
A.    Yesus Berkuasa Atas Sorga dan Bumi
Dasar Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya dan seluruh orang Kristen untuk memberitakan Injil yaitu karena Dia berkuasa atas sorga dan bumi ini. Tidak ada seorang pun manusia yang berani mengatakan bahwa sorga dan bumi menjadi kekuasaannya. Hanya Yesus sendiri yang berhak mengatakannya karena Dialah pemilik sorga dan seluruh yang ada di dunia ini. Dengan kekuasaan itu pulalah, Dia tidak ingin manusia di dunia binasa karena dosa mereka. Dia menyelamatkan setiap manusia sesuai tugas yang diberikan oleh Allah Bapa kepada-Nya.
Tuhan Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Walaupun Yesus adalah manusia sejati, tetapi Dia tidak pernah berbuat dosa. Manusia seluruhnya dikandung dari dosa, lahir dari dosa, jatuh dalam dosa, dan bahkan hidup dalam dosa sehingga dunia semakin rusak. Oleh karena itu, Brotosudarmo (2008:60) menyatakan bahwa itulah sebabnya orang Kristen memberitakan Injil Yesus Kristus. Tuhan Allah telah mengutus Firman-Nya ke dunia yang rusak karena dosa, maka para rasul dan semua orang Kristen tersebut wajib memberitakan Injil. Memberitakan Injil berarti memberitakan berita kabar baik, berita sukacita, dan berita keselamatan yang datang dari Yesus sendiri kepada seluruh umat manusia.
Ketika Tuhan Yesus berkata: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” menunjukkan bahwa Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus (Allah Tritunggal) merupakan satu kesatuan yang utuh dalam menjalankan tugas penyelamatan umat manusia yang berdosa dan dunia secara keseluruhan. Apa yang menjadi kehendak Allah Bapa dan Roh Kudus juga menjadi kehendak Yesus Kristus. Sorga dan bumi adalah milik Yesus Kristus, sedangkan manusia hanya sebagai pribadi yang menumpang sementara di dunia ini. Hal inilah yang membedakan Yesus Kristus dengan manusia pada umumnya.
Perkataan Yesus di atas bukan berarti sorga dan bumi akan menjadi atau baru menjadi milik-Nya, melainkan telah menjadi milik-Nya sebelum manusia ada di dunia ini. Segala yang ada di sorga dan bumi ini berada di bawah kuasa, pemerintahan, pemeliharaan, dan perlindungan-Nya. Gunung, lembah, angin, laut, dan segala musim berada di dalam pengawasan-Nya. Semua manusia harus hidup setia sesuai petunjuk dan perintah-Nya. Manusia yang tidak setia dan taat atas perintah-Nya akan menerima hukuman berdasarkan keadilan-Nya. Yesus ingin agar semua manusia tidak ada satu pun tersesat dan binasa oleh karena penghukuman-Nya.
B.    Semua Bangsa Murid Yesus
Perintah untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus merupakan tugas setiap orang yang sudah percaya dan beriman kepada-Nya. Alangkah ironisnya jika seseorang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya dapat membawa orang lain untuk percaya kepada Dia. Bagaimana mungkin seorang Kristen memberitakan Injil kepada orang lain sementara pribadinya belum merasakan sukacita Injil itu sendiri? Berita Injil adalah berita sukacita. Setelah merasakan dan menikmati karya Injil itu sendiri maka tugas selanjutnya adalah membagikan sukacita itu kepada orang lain.
Tugas menjadikan semua bangsa murid Yesus bukanlah pekerjaan yang mudah melainkan sangat sulit. Kesulitan utama karena akan berhadapan dengan berbagai agama, etika, budaya, adat, etnis, suku, pemerintah, dan sebagainya. Hal inipun kembali ditegaskan oleh Brotosudarmo (2008:60) bahwa perkembangan penyebaran gereja dan Injil khususnya bukannya tanpa hambatan. Namun pada prinsipnya, hambatan itu menjadikan gereja semakin bertumbuh. Hambatan serta segala rintangan menjadi sarana yang dipakai oleh Tuhan dalam memberitakan Injil sehingga semua bangsa menjadi murid-Nya. Gereja semakin ditindas dan dibabat, justru akan semakin merabat dan berkembang ke seluruh dunia.
Ketika diperhadapkan pada tugas yang sangat sulit dan mulia ini,  apakah kita harus mundur lalu meninggalkan Tuhan Yesus?  Harapan Yesus bukanlah perkara mudah dan sulitnya, melainkan Dia menuntut sikap kita sebagai murid-murid-Nya untuk taat melakukannya. Tuhan Yesus mengetahui bahwa kita mampu melakukan tugas mulia ini sebagai rekan dan sahabat-Nya. Dia memerintahkan kita untuk memberitakan Injil-Nya karena diberi kuasa. Jangan pernah kita takut memberitakan Injil kepada semua orang. Injil bukan agama melainkan berita tentang masa depan kita bersama Tuhan dan masa depan dunia ini tentunya.
Setiap orang Kristen yang mampu melakukan tugas ini bukan karena hebat dan kuatnya dalam memberitakan Injil. Segala hal yang mampu kita lakukan karena anugerah dan kuasa dari Tuhan. Tanpa kuasa dari Yesus orang Kristen tidak akan memiliki kemampuan untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Menjadi murid berarti setiap orang yang sudah mendengar Injil, menerima Yesus sebagai juruselamatnya, dan hidup dalam kebenaran Allah. Injil adalah kabar baik yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia demi keselamatan kekalnya.
Yesus sebagai juruselamat manusia menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan menuju sorga. Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Jalan keselamatan dan tercepat hanya dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus. Tanpa Yesus tidak ada keselamatan kekal dan tidak ada yang bisa masuk sorga.
Perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil kepada semua manusia menunjukkan sebuah bentuk keprihatinan serta perwujudan belas kasihan-Nya pada manusia yang sudah jatuh dan hidup dalam dosa. Belas kasihan-Nya ini mengisyaratkan bahwa Dia tidak ingin seorang pun manusia tersesat, hidup dalam dosa, kemudian masuk ke dalam neraka kekal. Dia merelakan diri-Nya disalibkan untuk menggantikan setiap umat-Nya yang seharusnya dihukum dan disalib. Akhir dari perjalanan salib ini Dia menganugerahkan keselamatan kekal yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun di dunia ini.
Setiap orang yang menjadi murid Yesus merupakan pribadi-pribadi yang dikasihi serta menerima anugerah Allah. Mereka semua adalah pribadi yang berharga di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, jangan pernah menolak panggilan Allah melalui Injil yang didengarnya. Allah memakai sesama kita untuk  menyampaikan berita keselamatan dari Yesus Kristus. Allah mau agar semua manusia beroleh keselamatan dari-Nya.
C.    Membaptiskan Semua Bangsa
Istilah agama Kristen secara khusus baru muncul sesudah kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian-Nya. Orang Kristen pertama terwujud melalui pelayanan khotbah para rasul di serambi Salomo sesudah Yesus naik ke sorga. Lebih tepatnya peristiwa itu pada hari Pentakosta. Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mendirikan agama Kristen. Akan tetapi, dalam pengajaran-Nya berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Seseorang tidak dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya kecuali bila Roh Kudus bekerja dalam pribadinya. Tidak ada seorang pun yang mampu berkata dan mengaku Yesus adalah Tuhan selain oleh karya Roh Kudus (1 Korintus 12:3).
Dari ayat Firman Tuhan di atas secara tersirat memberikan petunjuk bahwa dasar pengakuan seseorang menjadi Kristen yaitu beriman kepada Yesus Kristus melalui karya Roh Kudus. Beriman berarti mengikuti cara hidup Kristus serta segala konsekuensi keimannya. Jadi, orang yang beragama Kristen berarti pribadi-pribadi yang mengikuti Kristus berdasarkan panggilan dan pemilihan Allah atas hidup mereka. Setiap orang Kristen harus diperbarui oleh Kristus, sehingga ketaatan dan kekudusan hidupnya menjadi ukuran sebagai orang Kristen sejati.
Salah satu bentuk ketaatan yang dikehendaki oleh Kristus adalah menerima bapitisan kudus. Tugas membaptis adalah perintah Yesus kepada murid-murid-Nya dan semua orang Kristen. Semua bangsa berarti semua orang Kristen yang belum dibaptis. Baptisan hanya dapat dilakukan sekali seumur hidup yang dimeteraikan dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Apakah baptisan itu pada saat bayi atau dewasa? Apakah baptisan itu dilakukan secara percik atau selam? Apakah baptisan itu dengan air yang banyak atau pun sedikit? Yang paling penting adalah baptisan dilakukan hanya untuk kemuliaan Allah dan sebagai simbol persekutuan di dalam Dia.
Perintah untuk menerima baptisan ditujukan kepada setiap orang yang sudah Kristen maupun yang belum Kristen. Yang dimaksud orang yang sudah Kristen yaitu seseorang yang lahir dan besar dari keluarga Kristen tetapi belum pernah menerima baptisan. Sementara orang yang belum Kristen berarti setiap orang yang berasal dari agama dan kepercayaan lain yang dengan sukarela serta penuh sukacita bersedia menjadi orang Kristen. Hal ini ditandai melalui pengajaran kekristenan serta menerima sakramen baptisan kudus.
Proses pembaptisan seseorang untuk menjadi murid Yesus terus menjadi bahan perdebatan sampai saat ini. Ada yang menekankan pelaksanaan baptisan secara percik, dan ada pula yang hanya mengakui pembaptisan secara selam. Dilihat dari konteks perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk membaptis semua orang di dunia ini sesungguhnya tidak dijelaskan tentang sebuah cara pelaksanaan baptisan percik atau pun baptisan selam. Yang paling penting diingat bahwa baptisan itu menggunakan air serta didasari atas nama Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Untuk lebih teratur baptisan harus dipimpin dan dilakukan oleh seorang pendeta. Seseorang yang belum ditahbiskan menjadi pendeta hendaknya menahan diri dalam tugas sakral ini.
Membaptis seseorang menjadi keluarga Kristen merupakan sebuah tanda persekutuan di dalam Yesus Kristus. Yesus sendiri menerima baptisan menggunakan air yang ada di sungai Yordan. Injil Markus menyatakan: “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes” (Markus1:9). Jadi, ketika membaptis seseorang yang baru percaya kepada Yesus tidak diperbolehkan menggunakan media lain selain air.
Secara implisit air merupakan simbol bagi seseorang untuk membersihkan diri dari dosanya serta disatukan di dalam Yesus Kristus. Memang air baptisan tidak membersihan dosa manusia secara nyata. Dikatakan tanda atau simbol berarti ada pribadi yang sesungguhnya yang mampu membersihkan dosa dan menyelamatkan umat manusia yaitu Yesus Kristus. Perwujudan karya keselamatan ini terjadi melalui karya pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib sampai pada kebangkitan-Nya. Dibaptis oleh darah suci Yesus Kristus.
Peristiwa pembaptisan yang diterima oleh Tuhan Yesus tidak menunjukkan bahwa Dia orang berdosa. Justru melalui peristiwa itu Dia memberi teladan tentang betapa pentingnya makna baptisan tersebut bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Baptisan yang diterima oleh orang Kristen hingga saat ini tidak bertujuan menjamin seseorang selamat atau masuk sorga. Baptisan yang sejati dan menyelamatkan adalah baptisan darah Yesus Kristus (Roma 6:4; Kolose 2:12). Setiap orang yang percaya kepada Kristus mulai dari pengajaran-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan-Nya kedua kali, serta melakukan seluruh kehendak-Nya maka itulah yang menjadi penghuni sorga. Hal inilah yang menjadi dasar dan jaminan keselamatan kekal dari-Nya.
Keselamatan seseorang tentu tidak memberi legalitas atas keselamatan orang lain. Keyakinan seseorang tidak memberi jaminan atas keselamatan seluruh anggota keluarganya. Keselamatan itu menjadi hak istimewa Allah sesuai kehendak-Nya. Karya keselamatan dari Yesus Kristus menjadi tanggung jawab pribadi secara langsung. Jadi, keselamatan hanya berlaku secara pribadi dan bukan kolektif. Anugerah keselamatan dari Allah harus dipertanggung jawabkan lewat buah-buah iman.
Setiap orang yang sudah dibaptis dan menerima keselamatan dari Tuhan dikumpulkan menjadi satu persekutuan yang disebut gereja. Melalui persekutuan inilah setiap orang dibimbing untuk taat kepada Tuhan. Seluruh kehidupannya harus dapat mencerminkan kehidupan baru di dalam Kristus. Dalam tahapan proses pembelajaran seperti ini maka setiap orang akan terus diubahkan oleh Allah hari demi hari oleh kuasa Roh Kudus sampai pada kesempurnaan hidup. Dengan demikian, seiring perjalanan waktu maka setiap orang Kristen memiliki keyakinan yang kokoh bahwa pribadinya ada bersama Kristus serta pasti memperoleh anugerah keselamatan kekal dari-Nya.
D.    Pelayanan Misionaris
Agama Kristen pada dasarnya adalah agama sejarah. Landasan utama berdirinya agama Kristen terletak pada peristiwa sejarah kelahiran Tuhan Yesus, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, bahkan sampai pada kedatangan-Nya yang kedua. Dalam perjalanan sejarah inilah agama Kristen telah tumbuh dalam berbagai bentuk yang mengagumkan. Melalui Dengan melihat sejarah pertumbuhan inilah maka Smith (2008:355) dengan berani mengatakan bahwa semua agama yang dianut oleh manusia, agama Kristenlah yang paling luas tersebar di muka bumi ini, dan yang paling banyak penganutnya.
Banyaknya penganut agama Kristen karena kehendak Tuhan Yesus. Melalui pelayanan para misionaris dari berbagai negara di dunia patut diperhitungkan. Misionaris adalah orang-orang yang memberitakan Injil kepada semua orang di segala bangsa, budaya, bahasa, etnis, dan agama dengan sukarela atau pun diutus oleh organisasi kekristenan tertentu. Keberadaan agama Kristen yang ada di Indonesia merupakan hasil pelayanan para misionaris yang datang dari berbagai aliran, suku, bahasa, budaya, dan bangsa di seluruh dunia seperti Jerman, Belanda, Amerika, Cina, Korea Selatan, dan sebagainya. Hal ini ditegaskan oleh Makkelo (2010:178) bahwa denominasi dalam Kristen berkembang pesat, seiring dengan masuknya pekabar Injil dari berbagai aliran.
Para misionaris yang datang ke Indonesia tentunya tidak terlepas dari pengaruh bangsa yang penduduknya sebagian besar beragama Kristen. Berdasarkan penelitian Karel A. Steenbrink (1987:86) dalam bukunya yang berjudul “Perkembangan Teologi Dalam Dunia Kristen Modern” menegaskan sekitar tahun 1950-an pengaruh dari organisasi Kristen yang berpusat di Amerika Serikat makin lama makin menonjol dan terus berkembang di Indonesia.  Jadi, adanya berbagai aliran dan denominasi gereja baru di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pelayanan para misionaris dari Amerika, Eropa, Australia, dan Asia.
Kedatangan orang Amerika sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan kekristenan di seluruh dunia. Memang pada awalnya orang Amerika tidak begitu tertarik dengan keagamaan namun dalam beberapa puluh tahun terakhir justru mereka menjadi motor penggerak pertumbuhan kekristenan dari berbagai aliran dan denominasi gereja. Mereka sering mengadakan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Hal ini memungkinkan karena secara ekonomi, sosial, dan politik negara Amerika mampu mensponsori para misionaris untuk melakukan pelayanan misi. Ada organisasi yang sifatnya keagamaan, tetapi ada juga non-keagamaan seperti perusahaan.
Selain faktor di atas, agama Kristen di Indonesia berkembang sebagai hasil dari peninggalan para penjajah. Menurut Agus (2006:283) bahwa ada tiga tujuan para penjajah datang ke Indonesia (Asia), yaitu untuk mendapatkan gold (emas), glory (kekayaan untuk meraih kemenangan), dan gospel (memberitakan Injil), atau sering disebut “3 G”. Salah satu dari ketiga tujuan tersebut yaitu memberitakan Injil (gospel) di seluruh daerah jajahannya. Tidak heran jika agama Kristen sering diidentikkan oleh sekelompok masyarakat Indonesia sebagai agama penjajah.
Agama Kristen merupakan “benih” yang berasal dari luar negeri yang kemudian “tumbuh subur” di Indonesia. Agama Kristen juga bisa dikatakan seumpama “barang impor” dari negara-negera Eropa, Amerika, Australia, Belanda, Cina, Korea Selatan, dan sebagainya. Demikian juga agama lain yang sudah ada di Indonesia saat ini seperti Islam, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu merupakan “pruduk” yang berasal dari luar negeri.
Sebagai “pruduk” dari luar sudah barang tentu memiliki warna dan ciri khas yang berbeda dengan budaya Indonesia. Akibatnya, hasilnya pun melahirkan berbagai macam aliran dan denominasi gereja yang berbeda pula. Keanekaragaman aliran dan denominasi gereja ini telah menimbulkan pertentangan dan persengketaan sepanjang sejarah perjalanan gereja. Dampak dari semua ini membuat gereja mengalami perpecahan yang besar sehingga saling tidak percaya satu dengan lainnya.
Cikal bakal perpecahan dalam gereja telah dimulai sebelum agama Kristen masuk di Indonesia. Dalam catatan Smith (2008:392) perpecahan awal ini dimulai:
Pada tahun 1054 untuk pertama kalinya tampak perpecahan yang besar, antara Gereja Ortodoks Timur di Timur dan Gereja Roma Katolik di Barat.  Alasan perpecahan tersebut cukup rumit, baik dari segi geografis, budaya, bahasa politik, dan agama itu sendiri...perpecahan besar yang terjadi dalam Gereja Barat dengan Protestan Reformis dalam abad ke-16. Agama Protestan, terdiri dari empat aliran yaitu Baptis, Lutheran, Calvinis, dan Anglikan. Masing-masing aliran ini masih lagi dibagi menjadi lebih dari 250 sekte di Amerika Serikat saja.
Terjadinya perpecahan gereja di luar negeri berdampak negatif perkembangan agama Kristen di Indonesia yang dibawa oleh para misionaris tersebut. Perpecahan ini dapat diibaratkan seperti sebatang pohon yang pada akarnya terjadi kerusakan maka batang dan daunnya juga mengalami kerusakan yang sama. Pelayanan para misionaris yang berbeda paham dan aliran gereja menyebabkan penambahan daftar panjang perpecahan gereja. Mulai dari reformasi Luther hingga sampai hari ini.
Apabila kita menghitung secara keseluruhan maka aliran dan denominasi gereja yang sudah terdaftar di pemerintah sudah mencapai puluhan aliran dan ribuan denominasi gereja. Tentu masih banyak jumlah aliran dan denominasi gereja yang belum terdaftar. Lebih mengherankan lagi ada beberapa gereja belum termasuk anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Padahal lembaga ini sebagai lembaga gereja tertua di Indonesia.
Umumnya para misionaris yang diutus tentu menerima perintah dari organisasi atau aliran gereja yang mengutusnya. Mereka menjalankan tugas Amanat Agung dari Tuhan Yesus dengan konsep dan tujuan organisasi tersebut. Metode dan konsep penginjilan yang diterapkan pun kadangkala bertentangan dengan budaya serta norma sosial masyarakat setempat. Kehadiran mereka kadang ditentang oleh pemerintah dan masyarakat, termasuk orang Kristen yang sudah menjadi anggota salah satu denominasi gereja. Mereka datang bukan membawa berita Injil melainkan budaya, kepentingan pribadi, dan kepentingan aliran mereka masing-masing.
Biasanya misionaris yang datang ke Indonesia tidak memiliki keahlian dalam bidang teologi agama Kristen. Dalam aliran Baptis misalnya mendorong kaum awam untuk berkhotbah tanpa menempuh pendidikan secara formal kemudian diutus menjadi misionaris. Hal ini ditegaskan oleh Marsden (1996:41) bahwa penyimpangan radikal dari sebagian besar tradisi seperti ini membuat aliran Baptis menyebar dengan cepat, karena misionaris-misionaris Baptis, yang seringkali pendidikannya tidak seberapa, sambil mengkhotbahkan pesan mereka yang lebih egaliter.
Fakta lain juga ditambahkan oleh Steenbrink (1987:86-88) yang menyatakan:
“Orang Amerika memang maju di bidang teknologi ke tingkat yang paling tinggi, tetapi di bidang keagamaan pada umumnya agak konservatif, cenderung menerima naskah kitab suci secara  harfiah...Dari dunia pemikiran seperti itu muncul gereja atau aliran seperti Gereja Adven (Adventus dalam bahasa Latin berarti: Kedatangan, yaitu kedatangan kedua Yesus Kristus) dan kelompok studi, yang juga menjual majalah-majalah dan publikasinya, Saksi Yehova (yang akhirnya dilarang di Indonesia). Gerakan-gerakan ini biasanya dipelopori oleh orang “awam”, bukan dari kalangan sarjana teologi atau pimpinan gereja. Demikianlah, antara 1909-1915, dua orang bersaudara, Lyman dan Milton Stewart (yang kaya sekali melalui perusahaan minyaknya), menjadi motor untuk gerakan fundamentalis itu.”
Dengan penuh kerendahan hati kita pun harus jujur mengakui bahwa akibat pengaruh pelayanan para misionarislah adanya aliran dan denominasi gereja baru di Indonesia. Pengetahuan ilmu teologi yang kurang memadai secara otomatis menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan dan mengaplikasikan berita sukacita dari Yesus Kristus. Lebih para lagi jika setiap misionaris memiliki paham baru serta kepentingan tersendiri yang dibungkus dengan tugas pemberitaan Injil tersebut.
Suatu realita yang pernah terjadi pada jaman Hindia Belanda dimana adanya pelarangan para misionaris datang ke Indonesia. Sikap ini bertujuan mencegah perselisihan antara para misionaris ataupun terhadap aliran dan denominasi gereja yang sudah ada sebelumnya. Pembatasan ini terjadi sebagai akibat perbedaan teologis. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Misalnya, A.H. Francke (Kuhl, 1998:30) mengeluh pada tahun 1698 di dalam sepucuk surat kepada seorang teman bahwa perselisihan-perselisihan teologis di dalam gereja-gereja Protestan sudah menyerap begitu banyak tenaga, usaha, dan mencegah pelaksanaan misi sedunia gereja-gereja Protestan. Namun usaha pembatasan dan pencegahan ini tidak berlangsung lama.
Pengaruh pelayanan para misionaris merupakan salah satu penyebab terjadinya kontroversi dan perpecahan dalam agama Kristen.  Memang perlu diakui juga bahwa tidak semua misionaris memiliki sikap negatif semacam itu. Justru pertumbuhan gereja khususnya di Indonesia adalah berkat perjuangan para misionaris yang bermotivasi tulus, ikhlas, rela berkorban, penuh dedikasi, dan tanpa merubah kekristenan yang sudah ada. Untuk mewujudkan pelayanan para misionaris yang maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat hendaknya menghargai budaya, adat istiadat, serta aliran dan denominasi gereja yang sudah ada sebelumnya.
E.    Amanat Agung Vs Perpecahan Gereja
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama ini di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa alasan utama banyaknya aliran dan denominasi gereja berkaitan dengan tugas Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Amanat Agung merupakan tugas semua orang Kristen. Oleh sebab itu, siapa pun dan dengan cara apa pun dibenarkan untuk memenuhi tugas panggilan itu. Terlihat sepintas semangat ini perlu mendapatkan apresiasi yang positif. Akan tetapi, semangat memberitakan Injil dengan cara dan strategi yang bervariasi juga memungkinkan timbulnya masalah-masalah baru dalam gereja yang berakibat negatif seperti saat ini.
Apa yang terdeteksi selama ini menunjukkan adanya aliran dan denominasi gereja yang selalu menganggap bahwa cara beribadah dengan menggunakan alat musik piano dan sikap yang tenang lebih bagus daripada gereja yang memakai full music dan suasana gaduh dalam gereja. Begitu pun sebaliknya mengatakan bahwa cara bergereja dengan sikap tenang merupakan gereja tradisional, sehingga tidak relevan lagi pada era modern yang serba canggih. Mereka saling mengklaim gerejanya lebih baik dari yang lain. Apalagi telah berhasil memberitakan Injil di daerah belum pernah ada orang Kristennya, menganggap aliran dan denominasi gereja lain yang sudah ada sebelumnya tidak penting lagi.
Pada konteks yang lain, mereka melihat keberhasilan memberitakan Injil dengan adanya jumlah jemaat yang banyak, gedung gereja besar, gereja yang berpengaruh di masyarakat, gerejanya sudah lebih awal ada, alat musik yang lengkap, melakukan baptisan secara berulang-ulang, baptisan roh, bahasa roh, berbagai mujizat dilakukan, aktif dalam pelayanan sosial, dan sebagainya. Lebih ironisnya lagi, mereka saling mencuri anggota jemaat lain dengan berbagai macam alasan pembenaran diri. Apakah model dan konsep pemberitaan Injil seperti ini dibenarkan oleh Tuhan Yesus?
Kita harus akui bahwa setiap orang Kristen memiliki karunia dan talentanya masing-masing. Setiap aliran dan denominasi gereja memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sesungguhnya setiap talenta, karunia, kekurangan, dan kelebihan dari setiap aliran dan denominasi gereja seharusnya bertujuan untuk membangun dan menyatukan gereja Tuhan. Semakin banyak perpecahan dalam berbagai aliran dan denominasi telah mengindikasikan gereja gagal membawa berita kedamaian di bumi ini. Mereka lebih menonjolkan perbedaan dan kelebihannya masing-masing.
Tanpa mengurasi rasa hormat bahwa kita semua harus jujur dan setuju bahwa gereja di Indonesia telah mengalami perpecahan. Untuk meminimalkan perpecahan ini langkah awal yang harus dilakukan yaitu setiap aliran dan denominasi gereja mulai bersatu dan saling membangun. Kelebihan pribadi pemimpin gereja atau kelebihan dari setiap aliran dan denominasi gereja yang satu menjadi kelebihan bagi gereja yang lain. Bagi daerah yang sudah ada aliran dan denominasi gereja tidak perlu lagi membawa aliran dan denominasi gereja baru.
Demi memajukan pelayanan di daerah itu maka harus bergabung dengan gereja yang sudah ada. Kemampuan dan telenta dalam memberitakan Injil kiranya diterapkan dalam gereja yang sudah ada tanpa membuka aliran dan denominasi gereja baru. Demikian pula gereja yang sudah ada harus membuka diri dan mengadopsi strategi pelayanan gerejawi yang sifatnya positif dalam satu misi bersama yaitu memberitakan berita sukacita kepada semua orang.
Para pemimpin gereja yang memiliki strategi dalam memberitakan Injil serta talenta lainnya harus didiskusikan untuk diterapkan dalam gereja yang sudah ada. Setiap gereja harus bisa terbuka terhadap perubahan yang bertujuan positif. Memiliki etika yang baik dalam menerima paham dari aliran dan denominasi gereja lain. Penerimaan ini tidak bertujuan mengubah secara total model atau strategi pelayanan sebelumnya, tetapi adanya proses pembelajaran terhadap organisasi gereja baru. Segala bentuk perubahan dapat diterima sepanjang tidak bertentangan dengan Firman Allah.  

Dasar utama yang penting untuk diperhatikan dalam konteks ini yaitu Tuhan Yesus tidak pernah bertujuan atau memerintahkan membentuk aliran dan denominasi gereja baru dalam rangka mewujudkan tugas Amanat Agung-Nya. Tuhan Yesus hanya berdoa agar semua gereja-Nya tidak terus mengalami perpecahan yang mengerikan. Dia berharap agar kesatuan dan persatuan dalam gereja-Nya dapat diwujudkan sebelum Dia datang kembali. Melalui pelayanan para hamba Tuhan dapat terus memuliakan nama-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar