Gereja Pecah

Gereja Pecah

Minggu, 30 Agustus 2015

BAB X GEREJA MUTLAK BERSATU

A.    Doa Tuhan Yesus
Sepanjang kehidupan Tuhan Yesus adalah doa. Sejak kelahiran sampai kini Dia tetap berdoa. Dia berdoa bagi orang Kristen maupun non-Kristen. Pada saat masih bayi dan belum bisa berbicara sekalipun Dia tetap berdoa. Dalam usia yang kedelapan hari Dia dibawa oleh orangtua-Nya ke Bait Allah untuk berdoa (Lukas 2:21-40). Tidak mengherankan jika pada usia yang ke-12 tahun, Dia pergi sendiri ke Bait Allah untuk belajar dan berdoa (Lukas 2:41-52).  Dia berdoa bukan hanya satu kali, atau tiga kali (pagi-siang-malam), atau lima kali (lima waktu), melainkan dilakukan-Nya dengan berkali-kali dalam setiap hari dan waktu yang ada. Doa menjadi salah satu prioritas utama bagi hidup dan pelayanan Yesus.
Dengan melihat kehidupan Tuhan Yesus yang penuh dengan doa, maka setiap kita yang percaya kepada-Nya diajar untuk berdoa. Doa adalah nafas hidup bagi orang Kristen. Karena begitu pentingnya peranan doa bagi hidup orang Kristen maka Joseph Tong (2006:159) menegaskan bahwa kita berdoa bukan saja karena doa merupakan respon lahiriah kemanusiaan, melainkan karena doa adalah suatu jawaban kita terhadap kasih dan kemurahan Allah. Orang Kristen berdoa bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi salah satu cara mengucap syukur atas pemberian Tuhan.
Orang Kristen patut bersyukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus karena masih diberi kesempatan untuk datang berdoa kepada-Nya. Doa merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Apapun suku bangsanya, budayanya, etnisnya, bahasanya, miskin atau kaya, terpelajar atau awam, pendeta atau jemaat semuanya harus berdoa. Melalui kuasa doa dapat mengerti rahasia Tuhan atas hidup kita.
Dari sejumlah doa Tuhan Yesus sejak kelahiran-Nya sampai saat ini, salah satu doa yang mengharapkan gereja-Nya untuk bersatu yaitu doa yang dicatat oleh rasul Yohanes. Firman Tuhan berkata: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yohanes 17:20-23).
Menurut Harrison (2008:375) seorang Profesor Perjanjian Baru di Fuller Theological Seminary menjelaskan bahwa doa ini adalah doa agung Tuhan Yesus di mana memasukan diri-Nya sendiri di dalam doa ini, tetapi perhatian-Nya yang utama adalah pada para murid-Nya. Doa ini sarat dengan makna rohaniah, baik bagi Yesus, murid-murid-Nya, maupun semua orang percaya. Di sini Tuhan Yesus ikut bergumul tentang apa yang dirasakan oleh murid-Nya dan seluruh orang Kristen yang betapa sulitnya mewujudkan persatuan dan kesatuan gereja-Nya di seluruh dunia, termasuk gereja-gereja yang ada di Indonesia.
Doa Tuhan Yesus ini merupakan doa terakhir di Taman Getsemani sebelum ditangkap oleh prajurit dan penjaga Bait Allah pada saat itu. Lebih tepatnya lagi, doa ini diucapkan sebelum Yudas Iskariot memeluk serta mencium-Nya dengan sikap yang penuh kemunafikan serta pengkhianatan kepada-Nya (Markus 14:43-44). Isi doa Tuhan Yesus yang terakhir ini memang tidak dicatat secara detail oleh rasul Matius, Markus, maupun Lukas, melainkan hanya rasul Yohanes yang menguraikannya lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa Yohanes sebagai murid yang lebih dekat dengan Yesus mengerti arti pentingnya makna persatuan dan kesatuan umat Tuhan di segala waktu dan tempat.
Apabila kita merenungkan kembali kisah perjalanan kehidupan umat Israel pada Perjanjian Lama, kehidupan para rasul pada Perjanjian Baru, dan kehidupan orang Kristen sampai saat ini menunjukkan bahwa persatuan dan kesatuan sebagai Tubuh Kristus belum pernah terwujud. Persekutuan umat Tuhan yaitu Gereja-Nya telah lama mengalami perpecahan. Adanya perbedaan antara budak dan orang merdeka, hamba dan tuan, Yahudi dan Yunani, golongan Paulus dan Apolos, golongan Kefas dan Kristus, perbedaan aliran dan denominasi gereja, perbedaan baptisan percik dan selam, Kristen kaya dan miskin, dan sebagainya. Semua perbedaan-perbedaan ini terus diperdebatkan dan dijadikan sengketa hingga kini.
Jika perbedaan yang sering ditonjolkan maka gereja pasti mengalami perpecahan. Gereja tidak bisa bersatu pada tataran sikap ini. Yesus adalah manusia sejati dan Allah sejati mengetahui apa yang akan terjadi bagi gereja-Nya ke depan. Bahkan perpecahan sudah mulai terasa ketika Dia melayani selama tiga setengah tahun di dunia ini. Misalnya, perpecahan antara kesebelas murid dengan Yudas Iskariot yang telah memisahkan diri serta pergi menjual Yesus kepada imam-imam kepala seharga 30 keping perak pada saat Dia berdoa di taman Getsemani (Matius 26:14-15; Markus 14:43-44). Setelah kematian Yesus kesebelas murid-Nya juga bercerai-berai dan kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
Perpecahan gereja juga terasa pada masa pelayanan rasul Paulus di dalam jemaat Korintus. Paulus mengingatkan mereka dengan kuasa Firman Tuhan: “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Korintus 1:10; 11:18; 12:25).
Kita yakin sampai saat ini Tuhan Yesus di sorga terus mendokan gereja-Nya agar cepat bersatu. Namun perpecahan demi perpecahan terus saja terjadi bukan hanya pada masa pelayanan para rasul Paulus, tetapi perpecahan ini pun terjadi sampai saat ini. Perpecahan yang terjadi telah menyimpang dari pesan Tuhan Yesus. Berdasarkan Firman Tuhan dalam Yohanes 17:20-23 membuktikan Yesus sangat peduli, prihatin, dan mengharapkan kesatuan bagi gereja-Nya. Dalam doa ini Yesus menangis serta berseru dengan mengucapkan 3 kali kalimat, yaitu: “supaya mereka semua menjadi satu”; “supaya mereka menjadi satu”, dan “supaya mereka sempurna menjadi satu”.
Predikat “menjadi satu” merupakan kehendak Yesus Kristus dalam isi doa-Nya. Berdasarkan kesaksian Alkitab menegaskan bahwa Doa Agung ini bertujuan supaya semua orang percaya atau Gereja-Nya bersatu (Kolose 3:15). Demi terwujudnya kebersatuan gereja-Nya maka semua pemimpin gereja dan orang Kristen harus berdoa.
Menurut Joseph Tong (2006:160) bahwa gereja yang berdoa damai dan subur, tetapi gereja yang tak berdoa picik dan lemah. Perkataan ini dapat memberi kita semangat sekaligus sikap intropeksi diri terhadap kualitas doa kita selama ini. Jadi, gereja harus berdoa demi tercapainya kesatuan gereja-Nya. Tujuan akhir dari “menjadi satu” merupakan suatu proses untuk menuju yang “sempurna”. Kesempurnaan yang dimaksud yaitu sempurna menjadi satu sesuai kehendak Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
B.    Berbeda Tetapi Oikumene
Selain Injil Yohanes 17:20-23 yang menjadi tema sentral kebersatuan gereja, maka surat Paulus kepada jemaat Filipi juga menekankan hal yang sama. Dalam Filipi 2:1-11 memaparkan tentang sikap Paulus menasihati jemaat yang terancam dalam perpecahan. Jemaat Filipi sudah mulai terbentuk faksi-faksi yang saling bermusuhan satu sama lain. Dalam situasi itu Paulus menekankan supaya mereka menjadi satu. Nasihat itu berdasarkan kehendak Kristus agar gereja-Nya utuh  dan bersatu sebelum kedatangan-Nya kembali.
Rasul Paulus menasihati agar jemaat tetap sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan, saling merendahkan diri serta saling mengasihi. Di sinilah Paulus sebagai rasul Kristus minta agar jemaat jangan menuruti kemanusiaan mereka, tetapi supaya berpikiran, berperasaan, dan meneladani Kristus Yesus dalam seluruh aspek kehidupannya. Melalui kesatuan orang Kristen menjadikan dunia ini pun dapat bersatu.
Kita harus mengakui secara jujur bahwa aliran dan denominasi gereja di Indonesia sampai saat ini sangat banyak. Jumlah yang sangat banyak inilah menunjukkan gereja yang satu berbeda dengan lainnya. Semakin hari perbedaan ini semakin ditonjolkan, sehingga tujuan utama gereja untuk memberitakan kabar sukacita kepada semua orang sering mengalami masalah. Orang Kristen yang sejatinya menjadi duta Kristus justru menjadi batu sandungan bagi agama lain.
Pertambahan serta perbedaan aliran dan denominasi gereja di Indonesia mengindikasikan kesatuan gereja belum bisa tercipta sampai sekarang ini. Hanya sebagian kecil pemimpin gereja dan orang Kristen yang memimpikan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan gereja-Nya. Bersatunya gereja Tuhan merupakan sebuah harapan baru dan indah yang tidak perlu ditawar lagi. Oleh sebab itu, salah satu wadah untuk mewujudkan kesatuan tersebut yaitu gerakan oikumenisme.
Kata “oikumene” dalam bahasa Yunani terdiri dari dua kata yaitu: “oikos” artinya rumah, tempat tinggal, sedangkan kata ‘menein” yang berarti tinggal. Secara harafiah “oikumene” berarti “rumah yang didiami”. Dalam arti tempat, “oikumene” berarti dunia yang didiami (Luk. 4:5; Rm. 10:18; Ibr. l:6). Dalam arti politik, Injil Lukas menyebutkan kaisar Agustus mengadakan sensus di “seluruh dunia” yang berarti seluruh wilayah jajahan Romawi (Luk. 2:1). Dalam kitab Ibrani kata “dunia” dipakai dalam arti teologis yaitu dunia yang telah ditaklukkan dan disatukan di bawah pemerintahan Kristus (Ibr. 2:5). Dalam gerakan oikumene ini terkenal semboyan “Ut Omnes Unum Sint”, artinya “Supaya Semua Menjadi Satu.”
Kesatuan gereja Tuhan merupakan harga mutlak. Oleh sebab itu, konsep kesatuan inilah harus bisa diaplikasikan oleh beberapa gereja di seluruh dunia yang kita kenal dengan nama Dewan Gereja-gereja di Dunia (DGD) sejak tahun 1948.  Selanjutnya gerakan oikumenis ini pun terbentuk di Indonesia dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pada tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta. Dalam struktur awalnya, DGI diketuai oleh Prof. T.S. Gunung Mulia dan Sekretaris Ds. W.J. Rumambi. Beberapa tahun kemudian DGI berubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada sidang raya di Ambon tahun 1984 dan istilah PGI masih tetap dipakai sampai sekarang ini.
Penyebab munculnya berbagai aliran dan denominasi gereja, antara lain adanya luas wilayah pelayanan, adanya pengaruh dari berbagai jenis filsafat duniawi, kurang tegas dan ketatnya pengajaran tentang Kristen, dan berbagai jenis motivasi individu muncul dalam pelayanan gerejawi. Semua yang disebutkan itu membuat masing-masing pemimpin gereja atau orang Kristen menjadi berbeda pendapat. Selain itu pemahaman atau cara pandang terhadap suatu doktrin dalam kekristenan terus menjadi sorotan. Sikap ini pemicu munculnya rasa tidak suka dan tidak puas pada gereja sebelumnya. Akibatnya, keinginan untuk melepaskan diri dari gereja induk serta membuat aliran atau denominasi baru yang ideal menurut pemahamannya masing-masing.
Berbagai macam pandangan negatif yang dianggap sebagai kelompok murtad dan bidat atau sesat. Pemberian nama dan label pada aliran dan denominasi gereja merupakan pemikiran manusia yang berdosa. Tuhan Yesus tidak pernah merencanakan gereja-Nya untuk terbagi dalam berbagai aliran dan denominasi. Para rasul sendiri tidak pernah menganjurkan adanya perpecahan dalam agama Kristen. Sebab Kristus itu adalah satu dan tidak pernah dibagi-bagi (1 Korintus 1:10). Dan tidak ada ayat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang menganjurkan bahwa terbentuknya sebuah aliran dan denominasi gereja itu adalah alkitabiah.
Harapan terwujudnya kesatuan seluruh gereja di Indonesia merupakan komitmen bersama seluruh komponen orang Kristen. Kendati lembaga PGI sudah lama berada di tengah gereja dan bangsa ini, tetapi belum bisa menyatukan berbagai perbedaan organisasi gereja sampai saat ini. Walaupun PGI sudah bekerja keras namun sejalan dengan usaha mereka dalam menyatukan gereja justru aliran dan denominasi gereja pun ikut bertambah. Adanya aliran dan denominasi gereja yang menolak dan membentuk lembaga lain untuk mengakomodir seluruh bidang pelayanan gerejanya.
Gerakan oikumenis selain PGI ikut juga berkembang pesat di Indonesia. Beberapa di antaranya: Dewan Pantekosta Indonesia (DPI), Persekutuan Injili Indonesia (PII), Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII), Persekutuan Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia (PGTI), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja-Gereja Mandiri Indonesia (PGMI), Persekutuan Gereja Orthodox di Indonesia (PGOI), Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), dan sebagainya. Selain itu ada juga gerakan oikumenis lokal yang melayani pada setiap Propinsi, Kotamadya, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa. Pada awalnya gerakan paguyuban ini hanya bertujuan untuk belajar memahami serta berusaha menerima perbedaan yang ada.
Beberapa gerakan oikumenis lokal yang sudah ada di Indonesia, yaitu:
a)     Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara/Tengah (SAG SULUTTENG).
b)     Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK).  Jumlah POUK saat ini sekitar 79 di seluruh Indonesia yang melayani orang Kristen di pemukiman atau perusahaan tertentu.
c)     Badan Kerjasama Kegiatan Kristen (BK3).
d)     Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSAG).
e)     Forum Komunikasi Antar Gereja (FKAG).
f)      Musyawarah Pelayanan Antar Gereja (MPAG).
g)     Bali Partnership yaitu wadah pelayanan bersama di daerah Bali, dan sebagainya.
Keberadaan gerakan oikumenis nasional, lokal, dan konsep penyatuan gereja yang dikumandangkan oleh beberapa teolog maupun pemimpin gereja belum bisa menyatukan gereja sebagaimana harapan Tuhan Yesus. Semakin banyak organisasi oikumenis sesungguhnya gereja menunjukkan dirinya telah mengalami perpecahan yang semakin besar. Memang perpecahan dalam agama Kristen Katolik tidak separah dengan agama Kristen Protestan. Perpecahan gereja selama ini dimulai dari perbedaan paham, pendapat, gaya kepemimpinan, doktrin, bentuk gereja, strategi penginjilan, organisasi gerja, dan lain-lain.
Fenomena perpecahan dalam agama Kristen Protestan yang sedang terjadi saat ini jika tidak disikapi dengan bijaksanana serta terbeban untuk membenahinya, maka dipastikan akan menjurus pada perpecahan gereja secara besar-besaran pada beberapa tahun ke depan. Kemungkinan besar perpecahan semacam inipun akan dipergunakan oleh golongan dan oknum tertentu untuk menindas kekristenan di Indonesia. Waspadalah akan kemungkinan buruk tersebut!
Tuhan Yesus terus berdoa hingga kini agar gereja-Nya tetap bersatu. Memang banyaknya aliran dan denominasi gereja saat ini tentu sangat sulit mencapai kesatuan. Memang aliran dan denominasi gereja yang sudah ada, secara manusia tidak mungkin untuk dilebur menjadi satu aliran atau denominasi gereja saja. Akan tetapi, setidaknya ada niat bersama seluruh orang Kristen untuk menyatukan gereja-Nya mulai dari diri sendiri serta tiap organisasi gereja yang sudah ada di bumi pertiwi ini.
Ketika Yesus Kristus datang kembali ada sejuta harapan bahwa gereja-Nya telah bersatu menjadi “Gereja Kristus”. Gereja Kristus berarti gereja yang dipimpin secara langsung oleh Kristus tanpa menonjolkan aliran atau denominasi tertentu. Oleh sebab itu, langkah awal yang bisa dilakukan dalam rangka mewujudkan Gereja Kristus, adalah menghindari perpecahan gereja yang baru, tidak membentuk aliran dan denominasi gereja baru, dan saling menerima perbedaan yang ada tentunya.
C.    Bersatu Dalam Misi Bersama
Setiap orang yang dipanggil oleh Allah dari berbagai bangsa, suku, ras, etnis, bahasa, dan budayanya masing-masing di dikumpulkan untuk menjadi satu tubuh dengan-Nya. Relevansi penyatuan ini bisa dilihat dengan memiliki gedung gereja sebagai simbol dan identitas kebersamaan orang Kristen di seluruh dunia. Ketika masyarakat melihat gedung gereja maka di sana pasti ada orang Kristen. Gedung gereja berfungsi sebagai tempat beribadah kepada Allah dan sekaligus menjadi sarana persekutuan di antara orang Kristen yang berasal dari berbagai tempat, bahasa, aktivitas, dan kebudayaan mereka masing-masing.
Dalam sebuah gedung gereja dilaksanakan berbagai kegiatan kerohanian seperti menyanyi, bersaksi, berdoa, memberi persembahan, mengadakan perjamuan kudus, membaptis, sidi, pemberkatan pernikahan, dan yang lebih penting lagi membaca serta merenungkan Firman Tuhan. Semua kegiatan yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk memuliakan Allah serta menyampaikan visi-misi-Nya kepada semua masyarakat. Dalam gedung gereja juga jemaat merasakan pentingnya belajar menerima perbedaan yang ada. 
Satu persekutuan dimulai dari pemahaman serta pengakuan tentang adanya satu Gereja yang esa. Kemudian pengakuan ini diikatkan dalam kasih dan kuasa Allah Tritunggal pemilik gereja yang sesungguhnya. Allah yang memimpin gereja untuk bersatu dalam melaksanakan misi memberitakan Injil kepada semua orang. Dalam perjalanan sejarah gereja dalam dunia ini, mulai dari Utara, Selatan, Barat, dan Timur menunjukkan bahwa orang percaya kepada Yesus Kristus dipanggil dan dituntun oleh Roh Kudus untuk menjadi satu persekutuan serta menjadi kesaksian hidup di masyarakat (Lukas 13:29; Matius 8:11). Dalam keesaan inilah semua orang Kristen terpanggil serta bergerak tanpa henti mewujudkan misi Yesus Kristus untuk menyelamatkan semua orang berdosa di seluruh dunia.
Misi Tuhan Yesus di dunia ini yaitu menginginkan agar tiada satu pun manusia di dunia ini tersesat, melainkan memperoleh anugerah keselamatan dari-Nya. Kendati aliran dan denominasi gereja serta strategi penginjilan memiliki banyak perbedaan, tetapi diharapkan tetap bersama dalam memberitakan Injil-Nya. Seiring menjalankan misi agung ini, Yesus tetap mendoakan agar semuanya bersatu baik yang sudah mendengar Injil maupun yang baru percaya kepada-Nya. Dengan demikian, kita memiliki harapan yang sama agar semua aliran dan denominasi gereja di Indonesia dan dunia pada umumnya kembali pada rencana Allah semula yaitu bersatu. Kita harus menjalankan visi-misi Kristus di dunia ini sampai Dia datang kembali (Galatia 3:28).
D.    Bersatu Itu Mutlak
Persatuan dan kesatuan seperti apakah yang didoakan oleh Tuhan Yesus? Jawabannya sangat sederhana agar semua gereja-Nya bersatu menjadi Gereja Kristus! Gereja Kristus adalah gereja yang menghadirkan Kristus dalam seluruh pelayanan gereja tanpa menonjolkan aliran dan denominasi, doktrin, sistem pemerintahan, pengakuan gereja besar atau kecil, dan pemimpin yang berkharisma atau pun sederhana. Bersatunya gereja Tuhan menjadi tanggung jawab semua orang Kristen. Kesatuan yang dimaksud mulai dari murid pertama Tuhan Yesus sampai kepada orang Kristen di seluruh dunia sampai Dia datang kembali.
Perlu disadari bahwa kesatuan merupakan alat kesaksian kita supaya dunia ini percaya akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat. Yesus sendiri menghendaki supaya semua gereja-Nya bersatu. Karena itu panggilan supaya menjadi satu ini tidak perlu dianggap sepele. Kita menyikapi panggilan untuk bersatu tentu tidak boleh bertolak dari suatu sikap mau atau pun tidak mau, senang atau pun tidak senang, dan tidak ada tawar-menawar di dalamnya. Gereja harus bersatu dan mutlak adanya.
Mengingat pentingnya gereja bersatu adalah mutlak, maka pergumulan tentang keesaan gereja menjadi tanggung jawab semua orang Kristen. Memang upaya mewujudkan keesaan gereja telah memakan waktu panjang baik di tingkat internasional maupun nasional. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) misalnya pernah memperjuangkan keesaan secara nasional pada tahun 1967 di Makassar. Dalam rumusan ini kepelbagaian atau perbedaan itu diakui dan diterima. Gereja satu sama lain memang berbeda-beda, tatapi harus bersatu. Segelintir pemimpin Kristen yang memahami secara benar makna doa Tuhan Yesus pasti menerimanya secara tulus. Akan tetapi, sebagian pemimpin yang memiliki ambisi pribadi serta kelompoknya justru menolaknya sampai saat ini.
Dalam mewujudkan kesatuan gereja-Nya tentu kita memiliki keterbatasan, tetapi atas kehendak Allah, Yesus Kristus, dan kuasa Roh Kudus pasti gereja-Nya bersatu. Kapan dan dimulai dari gereja yang mana semuanya masih dalam rahasia-Nya. Oleh sebab itu, perlu kita memiliki keyakinan iman dan pengharapan akan terwujudnya gereja Tuhan tetap bersatu. Sebab, Harrison (2008:379) mengingatkan kita bahwa iman merupakan syarat yang diperlukan untuk menikmati hidup dari Allah dan karena itu juga untuk memasuki kesatuan yang mula-mula terdapat di dalam ke-Allahan dan kemudian di dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja.
Selain prinsip di atas, kesatuan gereja juga dapat diawali melalui kehidupan spiritual setiap pemimpin gereja dan orang Kristen secara keseluruhan. Sebagaimana Paulus menuliskan: Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh (Roma 12:5; I Kor. 12:12, 20), dan satu Roh (I Kor.12:4), sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan (I Kor.8:6; 12:5), satu iman, satu baptisan, satu Allah (I Kor.8:6; 12:6) dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (I Kor. 12:4-6; Filipi 2:2).
E.    Bertumbuh Tetapi Bersatu
Firman Tuhan menegaskan kepada kita bahwa seluruh umat Kristen adalah satu karena mengimani serta memiliki Tuhan yang sama yaitu Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Gereja adalah tubuh Kristus yang kelihatan di dunia ini (Kolose 1:18; Efesus 1:23) sekaligus Kristus adalah Kepala atas seluruh orang Kristen (Efesus 1:22; 4:15). Pada kenyataannya gereja terpecah belah dalam berbagai aliran dan denominasinya masing-masing. Lebih menyedihkan lagi karena satu sama lain saling bersaing dalam perebutan anggota jemaat untuk melegitimasi gerejanya telah mengalami pertumbuhan yang hebat.
Pertumbuhan gereja tidak bisa dilihat dari pertambahan jumlah anggota gereja semata, melainkan kualitas anggota jemaat dalam menjunjung tinggi nilai keesaan gereja itu sendiri. Apabila kita melihat kembali semua orang Kristen mula-mula yang menjadi percaya kerena mendengar Injil, memberikan diri mereka dibaptis, mereka memasuki persekutuan orang percaya yang sehati, sejiwa, saling membantu, dan saling menyayangi. Kesatuan mereka adalah sedemikian rupa eratnya sehingga mereka disukai oleh banyak orang termasuk yang belum percaya sama sekali. Pada akhirnya jumlah mereka semakin bertambah karena diberkati oleh Tuhan (Kisah Para Rasul 2:41-47). Belajar dari pertumbuhan gereja mula-mula itulah kita makin menjadi yakin bahwa tidak ada kuasa duniawi yang mampu menghalangi karya Tuhan dalam memberikan pertumbuhan bagi gereja-Nya.
Keesaan gereja betul-betul terwujud apabila semua orang Kristen mengatasi segala hal yang memisahkan mereka satu sama lain. Semua orang Kristen harus menyatakan secara jelas kesatuan mereka dalam Kristus Yesus melalui ibadah bersama, kesaksian bersama, pelayanan bersama, dan organisasi bersama. Untuk mencapai seluruh bentuk kebersamaan ini maka diperlukan sikap ketulusan, kekudusan, kebenaran, dan keterbukaan. Doa Tuhan Yesus tentang kesatuan gereja-Nya bukan saja ditujukan kepada murid-murid-Nya pada waktu itu, tetapi seluruh orang Kristen dari berbagai tempat dan waktu sampai saat ini.
Prinsip-prinsip keesaan gereja bukanlah hasil pikiran dan hasil kerja manusia, melainkan Yesus sendiri yang menginginkannya. Dengan demikian keesaan itu adalah keesaan di dalam Kristus. Keesaan gereja-Nya merupakan suatu kesaksian kepada dunia, agar dunia percaya bahwa Yesus Kristus telah diutus oleh Allah Bapa sebagai Tuhan dan juru selamat bagi semua manusia yang bersatu dengan-Nya. Persekutuan tubuh Kristus itu bukanlah suatu keseragaman tapi bukan pula keterpisahan. Persekutuan tubuh Kristus terdiri atas berbagai anggota, karunia, dan talenta masing-masing, tetapi diikat menjadi satu kesatuan dalam lembaga rohani yaitu Gereja Kristus.
Dengan keyakinan iman bahwa gereja sempurna menjadi satu adalah harapan dan doa kita semua. Sekali lagi harus disadari bahwa kesatuan gereja tidak dapat dicapai dengan usaha manusia semata, tetapi oleh kemurahan dan anugerah dari Allah Tritunggal yang dapat mengubahkan setiap hati pemimpin gereja dan orang Kristen di seluruh Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya. Kesatuan gereja bukan hanya untuk kepuasan serta kepentingan aliran dan denominasi gereja tertentu saja, tetapi kehendak Kristus Yesus atas gereja-Nya. Perwujudan kesatuan gereja harus direkatkan dengan kasih Kristus bagi umat-Nya. Selanjutnya, kasih itu terus diaplikasikan antara sesama pemimpin gereja dan seluruh orang Kristen.

Dengan demikian, keesaan itu merupakan anugerah dan sekaligus panggilan dari Tuhan atas semua orang percaya. Dalam mewujudkan panggilan agung dari Tuhan hasilnya harus menjadi nyata. Penyatuan gereja adalah pekerjaan yang paling berat karena berbagai aliran, denominasi, dan kepentingan sudah berakar dan tumbuh subur di Indonesia. Wadah oikumenis dapat dijadikan referensi, sarana, dan langkah awal persatuan ini. Gereja harus selalu bersaudara dan berpartisipasi dalam berbagai kepentingan bersama. Setiap gereja harus ikut merasakan penderitaan orang lain dan hidup rukun dari berbagai aliran serta denominasi gereja mana pun. Gereja harus terus bertumbuh sampai semua orang di seluruh dunia mendengar Injil Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar